Stres Traumatik Pada Polisi : Status Pernikahan dan Berfikir Tentang Ide Bunuh Diri

oleh

Metodologi Penelitian

Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah polisi yang bertugas di wilayah kerja Jawa Tengah, dipilih berdasarkan kesediaan dari subjek dan respon yang lengkap dalam mengisi skala penelitian. Terdapat sebanyak 49 subjek dilibatkan menjadi responden di dalam penelitian ini, dengan persyaratan mempunyai masa kerja sudah lebih dari 3 tahun.

Skala Stres Traumatik (SST) disusun dengan konsep 3 interval pilihan, yaitu dengan nilai interval dari 1 sampai 3. SST dirancang untuk mengukur keadaan internal berupa kadar terganggunya pikirannya dan juga ketidak sanggupan mengendalikan pikiran dari gangguan yang terjadi. Stres traumatik akan dimanifestasikan dalam bentuk pikiran dan perasaan yang terganggu, yang diakibatkan masuknya ingatan pengalaman ke dalam pikiran sadar dan perasaan.

INFO lain :  Perahu Dihantam Angin Kencang, Pencari Ikan di Rawa Pening Tewas

 

Hal-hal yang dianggap sebagai gangguan adalah : pengalaman hidup yang menyedihkan, munculnya pikiran tentang sesuatu yang mengerikan, dan hal lainnya seperti tentang hal-hal yang menakutkan. Pendekatan teori dari Lazarus digunakan untuk menjelaskan stres sebagai kondisi yang muncul karena manusia memberikan respon terhadap segala hal yang menghadirkan ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupan. Stres tentang kondisi internal yang mencerminkan goresan perasaan (sedih), mengingat kembali pengalaman yang menakutkan dan mengerikan. Dengan kata lain stres traumatik dianggap sebagai munculnya keadaan terganggu ketika pikiran berproses memikirkan tentang ketidaknyamanan (Pienaar, Rothman, Fons, Vijfer 2007 dan Steyn, Vawda, Wyatt, Williams, Madu 2013).

INFO lain :  Kartu Tani Berlaku 1 Januari 2018 di Jateng

Skala berfikir Ide Bunuh Diri disusun dengan menggunakan konsep semantik diferensial, dikotomi berupa hal yang sesuai dan bertentangan dengan keadaan diri. Subjek mengisi berdasarkan beberapa kondisi yang mewakili tentang keputusan-keputusan mengakhiri hidup. Interval nilainya bergerak dari nilai 1 hingga nilai 6. Ide berfikir bunuh diri dijelaskan sebagai pemikiran dan harapan yang sifatnya umum dan berisi mengenai ideologi yang serius mengenai rencana dan sarana yang digunakan untuk merampas kehidupan diri sendiri (didapatkan dari Sekhri 2015). Kondisi tentang hal-hal yang menggambarkan kondisi, dan setiap kondisi tertulis keputusan untuk akhiri kehidupan, menjadi pernyataan yang akan direspon oleh subjek. SBIBD digunakan untuk mengukur besarnya angka kesadaran dalam memilih kesesuaian dirinya dengan keputusan bunuh diri. Deskripsi tidak hanya tentang pikiran tetapi juga termasuk aspek emosi. Perasaannya dipenuhi dengan tidak adanya harapan yang dapat mempertahankan hidup.  Pikirannya diliputi pikiran-pikiran tentang tidak adanya jalan keluar, sehingga memutuskan untuk memilih ide bunuh diri.