Opini Dr. Tugimin Supriyadi,Psi.: KELEKATAN KELUARGA Antara Bertambahnya Anggota dan Pudarnya Kebersamaan
Rumah tua itu dulu selalu penuh suara tawa dan hiruk-pikuk yang hangat. Di sana, kami belajar arti gotong royong sejak kecil—siapa yang punya lebih, dia memberi; siapa yang kesulitan, yang lain menopang. Ikatan emosional itu terjalin begitu kuat, seolah tak ada yang bisa memisahkan. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika anak-anak mulai menapaki jenjang pernikahan dan membawa pasangan hidupnya masuk ke dalam lingkaran, lalu hadirnya cucu-cucu yang seharusnya menjadi pelengkap kebahagiaan, kenyataan yang terjadi justru sering kali berbanding terbalik. Kebersamaan yang dulu padu perlahan mulai renggang, kepedulian yang tulus kadang tergantikan oleh perhitungan, dan kelekatan yang dulu menjadi pondasi kini mulai menipis. Pertanyaannya: apakah kehadiran menantu dan cucu memang takdir yang memisahkan, ataukah kita yang belum paham cara menyesuaikan diri?
Dalam psikologi keluarga, fenomena ini bisa dijelaskan melalui beberapa teori yang membantu kita memahami mengapa perubahan ini terjadi. Salah satunya adalah Teori Sistem Keluarga yang dicetuskan oleh Murray Bowen. Teori ini memandang keluarga sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung, di mana perubahan pada satu bagian akan memengaruhi bagian lainnya. Ketika anggota keluarga inti (anak kandung) menikah, ia harus melakukan proses yang disebut diferensiasi diri. Artinya, ia harus mampu memisahkan diri secara emosional dan fungsional dari keluarga asalnya untuk membangun keluarga barunya. Masalah muncul ketika proses ini tidak berjalan seimbang. Jika ia terlalu terikat pada keluarga asal, pasangannya (menantu) akan merasa terasing. Sebaliknya, jika ia sepenuhnya beralih fokus ke keluarga baru demi menjaga keharmonisan rumah tangganya, ikatan dengan keluarga asal perlahan akan terputus atau melemah. Inilah yang sering kita saksikan: perhatian yang dulu terbagi rata kini tertuju pada kebutuhan istri/suami dan anak-anak, sehingga saudara atau orang tua lama-kelamaan merasa “tertinggal”.
Selain itu, ada konsep Siklus Hidup Keluarga yang dikemukakan oleh Duvall dan Miller. Setiap keluarga melewati tahapan, dari masa pembentukan, masa membesarkan anak, hingga masa ketika anak-anak meninggalkan rumah dan membentuk keluarga sendiri. Tahap ketika anak menikah dan membawa pasangan masuk disebut sebagai tahap “keluarga yang berkembang”. Secara teoritis, masuknya menantu adalah perluasan sistem, bukan penggantian. Namun, tantangannya terletak pada perbedaan latar belakang budaya, nilai, dan kebiasaan. Menantu membawa “budaya keluarga” asalnya sendiri. Ketika dua budaya ini bertemu tanpa komunikasi yang baik, akan muncul gesekan. Gesekan kecil yang dibiarkan lama-kelamaan membentuk dinding pemisah. Orang tua atau saudara mungkin merasa menantu “mengambil” anggota keluarga mereka, sementara menantu merasa sulit untuk diterima sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga baru.
















