Nguda rasa Den Mase Konyol (Tugimin Supriyadi) Bagian ke 2 :
Kacang Ojo Lali Kulite – LPDP Balekno Duwite
Kepedulian pemerintah terhadap anak-anak bangsa yang ingin mengenyam pindidikan tinggi di negeri orang tampaknya mendapatkan ujian. Tidak sedikit anak-anak harapan bangsa yang setelah menempuh pendidikan di luar negeri ini akhirnya tidak Kembali. Banyak faktor yang membuat mereka enggan kembali ke negaranya, ke masyarakatnya atau ke kampung dan desanya. Beberapa penyebab antara lain adalah tidak adanya jaminan Ketika Kembali ke tanah air mendapatkan pekerjaan sesuai harapan. Sementara Ketika mereka menempuh Pendidikan di luar negeri melihat dan mersakan nikmatnya hidup di negeri orang. Inilah yang membuat Den Mase Konyol, Mas Bajul alias Mas Bagus dan Lek Dikun jadi nggerundel.
“Sampun dangu Den Mase?”, tanya Mas Bagus menyalami Den Mase Konyol sambil nyender di tembok trotoar.
“Nembe lungguh, wong Lek Dikun nggak kayak kemarin. Kemarin dia malah datang duluan.” celoteh Den Mase Konyol sambil mengepulkan asap rokok Djarum tujuh Enamnya.
“Kulo pesenke nopo niki Den Mase? “ lanjut Mas Bajul.
“Sama saja dengan Lek Dikun, Kopi jahe.!” Jawab Den mase.
Mas bajul langsung saja ngobo ke Mbok Nah, Pisang goreng, lompia dan tentu saja kopi jahe, dan juga susu jahe untuk Mas Bajul sendiri. Setelah Mbok Nah menyajikan menu kelangenan mereka ber tiga, Lek Dikun baru muncul. Selesai nyetandarke sepeda jengkynya, Lek diun langsung saja nerocos.
“Nuwun sewu den mase, rodo telat!,” celotehnya.
“Lha eneng opo to…kok sajak ora reno eng penggalihe?” tanya Den Mase sok miyayeni.
“Saya ini habis marah ke anak saya, kuliah di luar negeri kok nggak mau ngurus beasiswa. Kan yo bonyok to Den Mase kulo niki” keluh Lek Dikun.
“Nuwun Sewu lek Dikun, apa nggak dapat LPDP anakke njenengan itu?”
“Nggak Mas…katanya syaratnya berat. Selain itu katanya kalau tidak sukses dan tidak ada konstribusi ke Negara, harus mengembalikan uang nya. Bahkan pakai bunga” jelas lek dikun.
“Gitu kok kalau kesini naik sepeda jengky, Gayane sok miskin. Nyatane kowe kuwi kan yo sugeh tenan to, orang kaya kamu itu Lek Dikun!” suar Den Mase agak nyengak.
“Kaya gimana to Den Mase? Habis gajian bojo sambat terus kurang ini, kurang itu. Gajiku habis terbang ke Jerman, Kaya dari mana? Dari Hongkong?” sambat Lek Dikun semu nggerundel.
“Piye kuwi Mas Bajul, kahanan koyok ngene iki. Diluar sana sudah banyak sarjana-sarjana kita yang menikmati bahagianya hidup di negeri orang, dan nggak Kembali kesini lagi. Padahal masih banyak adik-adik kita yang pengin juga ke sana?” tanya Den mase Konyol.
















