Opini Dr. Tugimin Supriyadi,Psi
Urgensi Menekan Stres dan Emosi pada Anggota Kepolisian Unit Lalu Lintas Guna Menunjang Peningkatan Karier
Di tengah dinamika pekerjaan yang penuh tantangan, anggota Kepolisian Unit Lalu Lintas menjadi ujung tombak dalam menjaga ketertiban dan keselamatan berlalu lintas. Namun, beban kerja yang berat, interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, serta tuntutan untuk memberikan pelayanan yang baik seringkali menjadi sumber stres dan tekanan emosional yang signifikan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan pribadi mereka, tetapi juga menjadi faktor krusial yang menentukan kemajuan karier di institusi kepolisian.
Stres dan Emosi sebagai Hambatan Karier
Anggota Unit Lalu Lintas menghadapi berbagai situasi yang memicu stres setiap hari—mulai dari menangani konflik di jalan raya, menangani kecelakaan yang memilukan, hingga bekerja dalam kondisi cuaca ekstrem dengan jam kerja yang panjang. Data menunjukkan bahwa sebanyak 80% anggota polisi lalu lintas dan reserse mengalami stres akibat beban tugas yang tinggi, yang bisa disertai dengan masalah pribadi yang memperparah kondisi tersebut (Felisiani, 2015, dalam Purwanto & Sahrah, n.d.; Nurdiyanto, 2015). Tanpa mekanisme penanganan yang tepat, stres akumulatif dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental seperti gangguan tidur, kelelahan kronis, hingga depresi (Otto & Gatens, 2022b).
Dampaknya pada karier sangat nyata: anggota yang mengalami stres tinggi cenderung memiliki konsentrasi yang menurun, sehingga lebih rentan terhadap kesalahan dalam penegakan hukum atau pelayanan masyarakat. Selain itu, ketidakmampuan mengelola emosi dapat menyebabkan konflik dengan rekan kerja, atasan, atau bahkan masyarakat, yang berpotensi merusak citra pribadi dan menghambat peluang promosi. Sebuah penelitian pada anggota Polantas di Padang Pariaman menunjukkan bahwa faktor promosi kerja yang tidak jelas juga dapat meningkatkan stres, yang pada gilirannya memengaruhi kinerja dan peluang karier (Oktavian et al., 2018). Di sisi lain, sebagian anggota kepolisian bahkan takut mencari bantuan terkait stres karena khawatir akan menghambat kemajuan karier atau membuat rekan kerja meragukan kemampuan mereka (Otto & Gatens, 2022a).
Penelitian pada anggota Satlantas Polrestabes Semarang juga menemukan bahwa stres kerja yang tinggi dapat dikurangi dengan adanya hubungan interpersonal yang baik antar rekan kerja dan kepribadian multikultural yang kuat, namun jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut akan menjadi beban yang menghambat perkembangan karier (Anggraeni et al., n.d.). Selain itu, terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja pada anggota polisi lalu lintas—semakin tinggi kecerdasan emosi, semakin rendah stres kerja yang dialami (Baharuddin et al., n.d.). Stres juga dapat dipengaruhi oleh beban kerja dan resiliensi, di mana resiliensi yang rendah dan beban kerja yang berlebihan akan meningkatkan tingkat stres (Purwanto & Sahrah, n.d.).
















