Opini : Dr. Tugimin Supriyadi, Psi.
MANUSIA IDEAL
Wawasan Humanistik dan Kearifan Lokal
Manusia ideal bukanlah sosok yang sempurna tanpa cacat, melainkan individu yang terus berkembang, sadar akan potensi diri, dan mampu berhubungan harmonis dengan sesama serta lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan teori humanistik yang menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kebebasan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk mengaktualisasikan diri, serta diperkuat oleh kearifan lokal dari Ki Ageng Surya Mentaram dan pandangan tokoh psikologi lainnya.
Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow memperkenalkan konsep self-actualization atau aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan manusia. Menurutnya, manusia ideal adalah mereka yang berhasil mencapai tahap ini, di mana mereka mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya, memiliki pandangan yang jernih terhadap realitas, menerima diri sendiri dan orang lain, serta memiliki rasa kebersamaan dengan umat manusia. Sementara itu, Carl Rogers menambahkan konsep “manusia yang berfungsi sepenuhnya” (fully functioning person). Menurut Rogers, sosok ini terbuka terhadap pengalaman, hidup pada masa kini, mempercayai insting dan nilai diri sendiri, serta memiliki kebebasan internal dan kreativitas yang tinggi. Intinya, manusia ideal menurut pandangan ini adalah mereka yang hidup selaras dengan nilai-nilai internalnya, bukan hanya menuruti tuntutan sosial.
Kearifan lokal Indonesia juga memiliki pandangan yang sejalan, salah satunya digambarkan oleh Ki Ageng Surya Mentaram, tokoh budaya dan pemikir Jawa yang dikenal dengan ajaran-ajarannya tentang kehidupan dan pembentukan karakter. Menurut beliau, manusia ideal adalah mereka yang mampu mencapai keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual, serta memiliki kesadaran akan posisinya di alam semesta. Salah satu ajaran beliau menekankan bahwa manusia harus memiliki “ilmu kang sejati” (ilmu yang sejati), yang bukan hanya sekadar pengetahuan intelektual, melainkan pengetahuan yang membawa pada kebijaksanaan dan kesadaran akan Tuhan serta sesama. Manusia ideal menurut pandangan ini juga dicirikan dengan sikap andhap asor (rendah hati), mampu mengendalikan hawa nafsu, dan berperilaku adil serta bijaksana. Ki Ageng Surya Mentaram juga mengajarkan bahwa kesempurnaan manusia terlihat dari bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya, menjaga keharmonisan, dan tidak menjadi beban bagi orang lain.
Tokoh psikologi lain juga memberikan perspektif yang melengkapi. Misalnya, Erich Fromm mengemukakan bahwa manusia ideal adalah mereka yang memiliki orientasi “memiliki dan menjadi” (being), di mana nilai hidup tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang dijalani, dicintai, dan diciptakan. Fromm menekankan pentingnya kebebasan dan tanggung jawab, serta kemampuan untuk mencintai secara dewasa sebagai ciri utama kepribadian yang sehat dan ideal. Sementara itu, Viktor Frankl, pendiri logoterapi, berpendapat bahwa makna hidup adalah pendorong utama manusia. Menurutnya, manusia ideal adalah mereka yang mampu menemukan makna dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan sekalipun, dan hidup dengan berorientasi pada nilai-nilai yang melampaui diri sendiri.
















