BENARKAH ANAK-ANAK KITA SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA?
Opini Oleh: Tugimin Supriyadi
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bhayangakara Jakarta Raya
Di banyak ruang percakapan orang tua dan guru belakangan ini, sebuah pertanyaan kerap muncul dengan nada yang sama: benarkah anak-anak kita sedang tidak baik-baik saja?
Kegelisahan itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dari perubahan-perubahan kecil yang semakin sering terlihat—anak yang lebih mudah cemas, remaja yang cepat merasa tertekan, atau siswa yang kehilangan motivasi belajar. Sebagian orang mengaitkannya dengan gawai dan media sosial. Sebagian lagi menyebut tekanan akademik yang semakin berat. Namun apa pun penyebabnya, satu hal terasa semakin nyata: dunia yang dihadapi anak-anak hari ini tidak lagi sama dengan dunia yang pernah kita alami.
Data terbaru memperkuat kekhawatiran tersebut. Hasil skrining kesehatan mental anak yang dilakukan pemerintah menunjukkan temuan yang patut menjadi perhatian bersama. Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani pemeriksaan, hampir 10 persen di antaranya terdeteksi memiliki gejala gangguan kesehatan mental. Dengan kata lain, lebih dari 700 ribu anak di Indonesia menunjukkan indikasi masalah psikologis yang memerlukan perhatian serius, terutama dalam bentuk kecemasan (anxiety) dan depresi.
Angka itu tentu tidak bisa dipandang sekadar sebagai statistik kesehatan. Ia adalah gambaran tentang tekanan yang mungkin sedang dialami sebagian generasi muda kita.
Anak-anak hari ini tumbuh dalam lanskap sosial yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah arus informasi yang bergerak tanpa henti, dalam ruang digital yang mempertemukan mereka dengan dunia yang sangat luas, tetapi sekaligus penuh tuntutan. Media sosial, misalnya, tidak hanya menjadi ruang interaksi, tetapi juga arena perbandingan sosial yang sering kali tanpa batas.
Di sana, standar keberhasilan, kecantikan, bahkan kebahagiaan kerap ditampilkan dalam bentuk yang serba ideal. Tanpa disadari, anak-anak belajar membandingkan diri mereka dengan citra-citra yang tidak selalu nyata.
Dalam situasi seperti ini, rasa cemas menjadi pengalaman yang semakin akrab bagi banyak remaja. Tekanan untuk diterima dalam pergaulan, ketakutan tertinggal dari teman sebaya, hingga tuntutan untuk selalu tampil “sempurna” perlahan membentuk beban psikologis yang tidak ringan.
Namun mengatakan bahwa anak-anak kita sedang “tidak baik-baik saja” juga memerlukan kehati-hatian. Sebab pada saat yang sama, generasi ini juga menunjukkan banyak potensi yang mengesankan. Mereka tumbuh lebih terbuka terhadap perbedaan, lebih berani menyuarakan pendapat, dan memiliki akses terhadap pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Yang sering kali terjadi bukan semata-mata anak-anak yang bermasalah, melainkan adanya jarak pemahaman antara dunia orang dewasa dan dunia anak-anak masa kini.
















