Stres Traumatik Pada Polisi : Status Pernikahan dan Berfikir Tentang Ide Bunuh Diri

oleh

Hasil penelitian yang dituliskan Alves, Santos, Nascimento, Ferro, Silva, Tenorio dan Nardi (2015) selain perawat, polisi juga mempunyai resiko yang tinggi untuk mengalami peningkatan depresi, dan sebanyak 6 polisi bahkan mempertimbangkan melakukan bunuh diri. Dalam keadaan dimana pertimbangan bunuh sudah muncul, maka pada waktu yang bersamaan juga muncul yang namanya ide berfikir untuk bunuh diri. Proses kognitif yang banyak menghasilkan pikiran cemas ternyata membuat orang-orang yang menderitanya menjadi traumatis, karena ketenangan isi pikiran sudah terganggu. Hasil penelitian menunjukan bahwa ide berfikir bunuh diri dapat dilihat melalui perspektif status pernikahan. Dimana polisi wanita yang tidak menikah ide bunuh dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menikah (Violanti, Fokdulgen, Luenda, dan Charles 2009)

INFO lain :  Perahu Dihantam Angin Kencang, Pencari Ikan di Rawa Pening Tewas

Hubungan antara depresi dan ide bunuh diri juga sudah terbukti, polisi wanita ide bunuh diri dapat meningkat 73 persen dan pada polisi pria ide bunuh diri dapat meningkat 67 persen saat keduanya megalami keadaan depresif (Violanti, Fokdulgen, Luenda, dan Charles 2009). Kondisi yang kedua ini muncul karena individu mengalami stres atau sangat tertekan dengan pengalaman hidupnya yang tidak enak. Semakin banyak ketidaknyamanan muncul muncul menggangu keternangan berfikir, semakin membuat traumatis. Nilai yang tinggi dalam hal strategi penyusaian terhadap stres berhubungan dengan banyaknya ide bunuh diri (Pienaar, Rothman, Fons, Vijfer 2007). Ide bunuh diri juga dijelaskan melalui kriteria total gejela PTSD, hasrat yang berlebihan dapat menjadi prediktor utama munculnya ide bunuh diri, dan saat diuji bersamaan dengan pikiran yang mengganggu,  pengaruh hasrat yang berlebihan terhadap ide bunuh diri dapat menjadi lebih meningkat lagi (Steyn, Vawda, Wyatt, Williams dan Madu 2013).

Landasan Teoritis

INFO lain :  Bangunan SMK Negeri di Sragen Runtuh, Belasan Siswa Jadi Korban

A.Berfikir Ide Bunuh Diri

Bunuh diri dipahami dalam konsep yang sederhana sebagai perbuatan menghilangkan nyawa sendiri. Terjadi peristiwa kematian, yang melakukan adalah dirinya sendiri. Violanti menyebut bahwa kejadian individu membunuh dirinya karena sebelum peristiwanya terjadi sudah terbentuk konstelasi pikiran untuk membunuh diri (dikutip dari Sekhri 2015). Jika merujuk kepada pandangan dari Marliana (2012), maka ide bunuh diri dianggap sama dengan segala perbuatan nalar untuk memilih kematian, dalam hal ini menggambarkan isi pikiran.

INFO lain :  Energi Perdamaian dari Arena Pertandingan

Konstelasi pikiran (mind set) untuk bunuh diri terbentuk karena individu berlarut-larut dirundung masalah, dan tidak menemukan jalan keluarnya, hingga pada akhirnya kehilangan harapan (Violanti 2004). Berlarut-larut dan tidak ada penyelesaiannya membuat individu tidak bisa melihat lagi cara yang dapat membuat dirinya bisa menyesuaikan (coping), dan tidak mengetahui lagi apa yang harus dilakukannya ketika mengingat masalahnya (Sekhri 2015).