Opini dr. Tugimin Supriyadi,Psi. : Fenomena Nikah Muda Pesepak Bola, Sebuah Dilema

oleh

Fenomena Nikah Muda Pesepak Bola, Sebuah Dilema

Opini Dr. Tugimin Supriyadi, Psi.

Oleh: [Nama Penulis]
Sepak bola bukan lagi sekadar olahraga, tetapi telah menjadi industri raksasa yang melahirkan bintang-bintang muda dengan popularitas, penghasilan, dan pengaruh yang melonjak drastis dalam waktu singkat. Di tengah sorotan publik, satu fenomena yang makin sering muncul dan menjadi perbincangan hangat adalah tren nikah muda di kalangan pesepak bola, baik pemain lokal maupun internasional. Jika dulu menikah di usia muda dianggap sebagai hal yang biasa, kini keputusan tersebut justru menimbulkan pertanyaan: apakah ini pilihan sadar, tekanan lingkungan, atau sekadar ikut tren? Dan yang paling penting, apakah mereka benar-benar siap secara emosional, mental, maupun tanggung jawab?

Contoh Nyata yang Menjadi Sorotan

Di Indonesia, nama Pratama Arhan menjadi salah satu contoh paling mencolok. Ia menikah pada Agustus 2023 saat usianya baru 21 tahun, sementara istrinya Azizah Salsha berusia 19 tahun. Pernikahan yang digelar di Jepang itu sempat dipuji banyak pihak sebagai bentuk tanggung jawab, namun kurang dari dua tahun berlalu, keduanya resmi bercerai pada Agustus 2025. Dokumen pengajuan cerai menyebutkan penyebab utama adalah seringnya konflik, perbedaan pandangan, serta kurangnya kemampuan berkomunikasi dan mengelola masalah—hal yang wajar terjadi pada usia yang masih dalam tahap pencarian jati diri dan pematangan karakter.
Selain itu, ada Witan Sulaeman yang menikah di usia 20 tahun pada 2022, Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho yang mengikat janji suci saat berusia 23 tahun. Di kancah internasional, bintang muda Real Madrid Endrick Felipe bahkan melangsungkan pernikahan saat usianya baru menginjak 18 tahun. Di satu sisi, ada pasangan yang mampu bertahan dan membangun rumah tangga harmonis, namun tak sedikit pula yang harus berpisah karena ketidaksiapan menghadapi kompleksitas kehidupan berumah tangga.
Ada beberapa alasan mengapa fenomena ini marak terjadi. Pertama, faktor ekonomi: pesepak bola muda sudah memiliki penghasilan stabil dan besar, sehingga secara materi dianggap “sudah mampu”. Kedua, tekanan sosial dan budaya, di mana menikah sering dipandang sebagai bentuk penyelamatan dari pergaulan bebas atau sebagai pencapaian hidup. Ketiga, pengaruh media sosial, di mana kisah romantis dan kemewahan kehidupan pasangan muda kerap dijadikan konten, sehingga terkesan indah dan mudah dilakukan. Padahal, secara psikologis, kesiapan finansial tidak selaras dengan kesiapan emosional, dan kemewahan yang terlihat di layar tidak mencerminkan realitas konflik yang harus dihadapi di rumah.
Menurut teori perkembangan Erik Erikson, usia 18–25 tahun merupakan fase Early Adulthood, di mana tugas utama individu adalah membentuk identitas diri, mengeksplorasi potensi, dan belajar membangun relasi—bukan langsung memikul tanggung jawab pernikahan dan keluarga. Ketika transisi ini dipaksakan, seseorang akan menghadapi krisis antara Intimacy vs Isolation, di mana mereka belum memiliki dasar psikologis yang cukup untuk berbagi hidup, berkompromi, dan mengelola dinamika hubungan jangka panjang. Penelitian dari Universitas Diponegoro juga membuktikan bahwa kematangan emosi berkorelasi positif sebesar 76,7% terhadap kesiapan menikah; artinya semakin rendah tingkat kematangan emosi, semakin besar risiko masalah dalam rumah tangga. Psikolog Fitri Sukmawati menambahkan, pada usia muda, individu umumnya masih impulsif, belum mampu mengelola emosi dengan baik, dan belum tuntas memahami nilai-nilai hidup, sehingga mudah terjebak dalam konflik yang sulit diselesaikan.

Dampak yang Sering Terabaikan

Ketidaksiapan inilah yang kemudian memunculkan berbagai masalah. Dalam karier, pesepak bola dituntut memiliki fokus penuh, disiplin tinggi, dan kestabilan kondisi fisik maupun mental. Ketika harus memikul beban rumah tangga di usia muda, sering kali terjadi pembagian konsentrasi. Konflik rumah tangga yang belum mampu diselesaikan justru berimbas pada performa di lapangan. Belum lagi risiko perceraian yang tidak hanya merugikan secara emosional, tetapi juga finansial dan citra publik.
Secara psikologis, Dr. Fifin Dwi Purwaningtyas dari Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra menyebutkan bahwa pasangan muda cenderung mengalami stres tinggi akibat peralihan peran secara mendadak, kesulitan mengambil keputusan bersama, serta terbatasnya strategi penyelesaian masalah. Hal ini bahkan bisa memicu kecemasan, depresi, hingga gangguan kesehatan mental lainnya jika tidak ada dukungan yang memadai. Bagi atlet, kondisi ini menjadi ganda beban, karena performa fisik sangat dipengaruhi oleh kondisi mental. Ketika pikiran dipenuhi masalah rumah tangga, daya konsentrasi, ketahanan fisik, dan kecepatan reaksi yang dibutuhkan di lapangan otomatis akan menurun drastis.
Selain itu, dari perspektif teori Attachment Style atau gaya keterikatan, keputusan menikah muda sering kali didorong oleh kebutuhan psikologis mencari rasa aman atau validasi diri, bukan karena kesiapan komitmen. Individu dengan gaya keterikatan cemas misalnya, cenderung terburu-buru menikah karena takut kesepian atau ingin segera mendapatkan tempat aman, padahal pondasi hubungan belum kuat—sehingga ketika masalah datang, mereka mudah goyah dan sulit beradaptasi.

Solusi: Antara Kebebasan Memilih dan Perlindungan Diri

Fenomena ini tidak bisa dilarang secara mutlak, karena pernikahan adalah hak setiap individu, namun tentu harus diiringi dengan edukasi dan pendampingan agar keputusan tersebut tidak berujung pada penyesalan. Ada beberapa langkah solutif yang bisa diterapkan:
Pertama, pembinaan dan edukasi dari klub serta federasi. PSSI maupun klub seharusnya memasukkan materi persiapan kehidupan berumah tangga dalam program pembinaan pemain muda. Materi ini tidak hanya tentang agama, tetapi juga manajemen keuangan, komunikasi pasangan, psikologi hubungan, serta cara membagi waktu antara karier dan keluarga. Berdasarkan prinsip psikologi, edukasi ini bertujuan untuk membantu mereka membangun emotional readiness, yaitu kemampuan mengenali emosi diri dan pasangan, mengelola konflik, serta berpikir objektif sebelum mengambil keputusan besar.
Kedua, peran manajemen dan keluarga. Manajer, pelatih, serta keluarga dekat seharusnya menjadi pihak yang memberikan masukan objektif, bukan sekadar mendukung apa pun keinginan pemain. Ketika pemain memutuskan menikah muda, mereka perlu diajak berdiskusi tentang tantangan apa saja yang akan dihadapi, sehingga tidak ada ilusi bahwa pernikahan adalah solusi atau tujuan akhir semata. Dukungan lingkungan yang konstruktif terbukti secara psikologis dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kualitas penyesuaian diri pasangan muda.
Ketiga, kesadaran diri dari pemain itu sendiri. Sebagai figur publik, mereka memiliki tanggung jawab lebih tidak hanya pada karier, tetapi juga pada diri sendiri dan calon keluarga. Menunda pernikahan hingga mencapai kematangan usia, pikiran, dan mental bukanlah tanda ketidaksiapan, melainkan bentuk tanggung jawab. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas usia minimal menikah 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan juga telah disusun berdasarkan kajian psikologis dan biologis, yang memastikan individu sudah melewati fase remaja dan mulai memasuki kematangan dewasa.
Keempat, penyaringan informasi di media sosial. Publik dan penggemar juga perlu bijak dalam menanggapi tren ini. Tidak semua kisah nikah muda yang terlihat indah di media sosial adalah gambaran nyata, sehingga tidak perlu menjadikannya standar atau tren yang harus diikuti. Menurut penelitian psikologi sosial, paparan konten idealisasi hubungan sering kali memicu social comparison, di mana individu menilai dirinya berdasarkan apa yang dilihat di media, padahal realitasnya sangat berbeda.

Penutup

Nikah muda di kalangan pesepak bola adalah fenomena yang kompleks, tidak bisa dinilai hitam-putih. Ada yang berhasil, namun lebih banyak yang menghadapi tantangan berat karena ketidaksiapan. Sepak bola adalah karier yang membutuhkan waktu, usaha, dan fokus maksimal, sedangkan pernikahan adalah ikatan seumur hidup yang membutuhkan kematangan pikiran dan karakter. Keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan dibangun dengan dasar kesadaran, pengetahuan, dan kesiapan yang matang.
Pada akhirnya, menjadi bintang sepak bola adalah kebanggaan, namun menjadi kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang bertanggung jawab adalah pencapaian yang jauh lebih besar dan membutuhkan persiapan yang tidak kalah pentingnya. Jangan biarkan kilau popularitas dan uang membuat kita melupakan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak diukur dari seberapa cepat kita menikah, melainkan seberapa kuat kita mampu mempertahankan dan membangunnya bersama. (*)

INFO lain :  Menunggu Kebijakan Baru Kenaikan Jabatan Akademik Dosen