Opini Dr. Tugimin Supriyadi, S.Psi.,MM.,Psikolog dan Ratih Dewayanti, Psi., :
Taufik Hidayat, Penagih Utang dengan Jejak Narsistik yang Menyakiti Pasangan
Kemarin Rabu 24 Juni 2026, Polisi menyatakan telah menangkap tersangka Taufik Hidayat. Berbagai hujatan dan makian serta sumpah serapah ditujukan ke Taufik, namun di balik semua itu, kita perlu mengakaji dari sisi psikologis, ada apa dan bagaimana Taufik Hidayat, bisa sesadis dan setega itu terhadap pacarnya? INFOPlus menurunkan tulisan berseri dari pakar psikologi Kriminal Dr. Tugimin Supriyadi dari Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, yang juga mengajar Psikologi Kriminal dan juga Psikologi Forensik serta Psikologi Kepolisian. Diperkuat oleh seorang praktisi psikologi Ratih Dewanyanti, Psi.
Nama Taufik Hidayat belakangan ini menjadi sorotan bukan karena pekerjaannya sebagai penagih utang, melainkan karena pola perilaku yang dianggap kejam, tidak berperikemanusiaan, dan menyimpang—terutama cara ia memperlakukan pacarnya sendiri. Tindakan‑tindakan yang terungkap memunculkan pertanyaan mendasar dari sudut pandang psikologi, apakah perilaku ini sekadar watak kasar, atau justru cerminan jelas dari ciri‑ciri kepribadian narsistik yang berbahaya, yang dilampiaskan kepada orang yang seharusnya paling dicintainya?
Ditinjau dari penapilan terakhhirnya, dia merubah dirinya seolah sebagi seorang aparat, hal ini semata agar dipandang berwibawa dan menakutkan. Dari perilaku dan penampilannya, telah memenuhi kriteria sebagi seorang narsistik.
Namun lebih jauh kita perlu sedikit memahami bahwa , narsisme bukan sekadar suka memuji diri sendiri. Secara psikologis, ini adalah pola kepribadian yang ditandai dengan rasa keagungan diri berlebihan, kebutuhan tak terpuaskan akan penguasaan dan pengakuan, serta kurangnya empati yang parah.
Dalam hubungan pribadi, ciri ini tampak sangat nyata dan merusak, menganggap diri berhak mengatur, menuntut, dan mendapatkan kepatuhan mutlak dari pasangan. Kemudian memandang pasangan bukan sebagai manusia yang setara, melainkan milik atau alat pemuas keinginan sendiri. Selanjutnya, orang narsistis juga tidak peduli atau sengaja mengabaikan rasa sakit, ketakutan, maupun hak‑hak pasangannya. Ditambah dengan bersikap dominan, kasar, dan merasa tidak perlu bertanggung jawab atas dampak tindakannya. Selebihnya, mudah marah, menekan, atau menyakiti jika keinginannya tidak terpenuhi.
Nah, ketika pola ini dijalankan secara sadar dan terus‑menerus—terutama terhadap orang yang seharusnya dilindungi—maka itu bukan sekadar sifat buruk, melainkan perilaku yang menyimpang dan berpotensi merusak jiwa orang lain.
Mengenali Tanda-tanda Nyata Narsisme Yang Menimpa Pasangan
Menilik dari beberapa peristiwa penganiayaan berat seperti yang dilakukkan Taufik Hidyat, maka pasangan atau secara spesifik remaja putri mutlak mengetahui ciri-ciri nyata yang dirasakan, bahwa dirinya telah menjadi korban narsisme dari pasangan. Sehingga, remaja putri kita terhindar dari perilaku narsisme yang lebih sadis.
Dari fakta dan laporan yang terungkap, perilaku Taufik Hidayat selaras dengan indikasi‑indikasi tersebut secara jelas, seperti rasa berhak mutlak dan penguasaan terhadap pasangan (walaupun secara nyata baru sekedar pacaran).
Meski hanya berstatus pasangan yang baru pacaran, ia bertindak seolah memiliki kuasa penuh atas diri pacarnya. Ada anggapan bahwa ia berhak menentukan segalanya, menuntut kepatuhan tanpa syarat, dan melakukan apa saja sesuai kehendaknya—tanpa mempedulikan persetujuan atau perasaan wanita tersebut. Sikap ini sangat khas narsistik, menganggap diri lebih tinggi dan berhak menguasai orang lain.
Tanda-tanda narsisme juga ditampakkan oleh gelagat dan peanmpakan perilaku kerasnya, namun dirinya tidak merasa bersalah. Sifatnya sebagai penagih utang yang terbiasa dengan tekanan dan kekerasan, ternyata terbawa ke dalam hubungan pribadi. Ia memperlakukan pasangannya seolah objek atau alat yang bisa dimanfaatkan, ditekan, atau diperlakukan sewenang‑wenang demi kepentingan atau kepuasan dirinya sendiri—tanpa sedikit pun merasa bersalah atau menyadari penderitaan yang ditimbulkan. Ini adalah inti dari kurangnya empati pada narsistik.
Tanda lain Taufik seorang yang narsistis adalah ketidakpekaannya yang ekstrem, sehingga tega menyakiti orang lain, bahkan terhadap pacarnya sendiri. Ini menjadi hal yang paling mencolok dan menunjukkan penyimpangan psikologis nyata adalah ketegasannya melakukan tindakan yang menyakitkan, merendahkan, atau membahayakan terhadap pacarnya sendiri. Bagi orang biasa, hubungan cinta adalah ruang perlindungan; namun bagi sosok dengan ciri narsistik seperti ini, hubungan justru menjadi medan untuk menegaskan kekuasaan dan memenuhi kebutuhan diri—tanpa rasa belas kasihan sama sekali.
Selain hal di atas, ciri lainnya adalah Pola yang tampak, yang juga menunjukkan ia tidak mau mengakui kesalahan, tidak mau mendengar keluhan, dan cenderung menyalahkan pasangannya sendiri atas masalah yang terjadi. Ini memperkuat gambaran kepribadian yang tertutup, kaku, dan tidak mampu merasakan tanggung jawab emosional.
Dampak Psikologis Korban di Dalam Hubungan
Ketika narsisme hadir dalam hubungan pribadi, dampaknya sangat menghancurkan bagi pasangannya. Hal tersebit terlihat seperti terjadinya penindasan emosional dan psikologis yang berkelanjutan, orban kehilangan rasa aman, harga diri, dan kebebasan pribadi. Selain itu juga korban dalam dirinya muncul ketakutan terus‑menerus, rasa tertekan, hingga gangguan mental yang serius. Selanjutnya korban juga merasakan trauma, karena hubungan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi sumber penderitaan dan malapetaka. Dari sudut pandang psikologi, perilaku semacam ini—terutama jika dilakukan berulang‑ulang dan sadar—menunjukkan adanya gangguan kepribadian yang nyata, yang jika tidak ditangani akan terus berpotensi merugikan orang‑orang di sekitarnya.
Akhirnya dapat dikatakan bahwa, berdasarkan gambaran perilaku yang nyata, dapat disimpulkan bahwa Taufik Hidayat menunjukkan ciri‑ciri narsistik yang sangat kuat dan tampak jelas. Lebih dari sekadar kasar atau keras, ia memperlihatkan pola perilaku yang menyimpang: menguasai, mengeksploitasi, dan tega menyakiti pacarnya sendiri tanpa empati sedikit pun.
Kasus ini menjadi pengingat penting: kekuasaan atau kebiasaan menekan orang lain—meski berasal dari pekerjaan—tidak boleh dibawa masuk ke dalam hubungan pribadi. Ketika seseorang tega memperlakukan orang terdekatnya dengan cara yang tidak manusiawi, itu bukan sekadar soal watak buruk, melainkan tanda adanya masalah psikologis serius yang perlu dilihat dan ditangani secara serius pula demi melindungi korban dan mencegah terulangnya.(*) ( Bersambung).
















