Ide bunuh diri dapat menjadi variabel yang terpengaruh, karenanya ada beberpa faktor yang menjadi penyebabnya. Pekerjaan yang mengandung resiko depresi dapat menjadi faktor yang memengaruhinya, kondisi depresif yang muncul karena pekerjaan menjadi kondisi individual yang menghasilkan ide bunuh diri. Polisi merupakan salah satu profesi yang pekerjaannya mengandung resiko depresi yang memunculkan gagasan bunuh diri (Alves, Santos, Nascimento, Ferro, Silva, Tenorio dan Nardi 2015). Jenis kelamin juga dapat digunakan untuk mengenali resiko munculnya ide bunuh diri. Dalam keadaan yang depresif polisi Pria mempunyai peluang yang lebih besar untuk berfikir bunuh diri (Violanti, Fokdulgen, Luenda, dan Charles 2009). Ide bunuh diri dapat dipengaruhi oleh ketidaksanggupan polisi melakukan adaptasi terhadap tekanan yang sudah menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Ketidaksanggupan terjadi karena individu yang mengalami tekanan yang berat (Pienaar, Rothman, Fons, Vijfer 2007). Ide bunuh diri dapat semakin meningkat lagi karena adanya hasrat yang sudah kuat dari individu ingin mengakhiri hidupnya (Steyn, Vawda, Wyatt, Williams dan Madu 2013).
B.Stres Traumatis
Stres merupakan suatu aspek yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang di dalam kehidupannya, sebagai aspek yang membuat setiap orang juga perlu melakukan penyesuaian (Lazarus dan Folkman 1984). Hal ini dikarenakan ketika individu mengalami keadaan stres, merasakan adanya ketidaknyamanan berupa tekanan pada dirinya. Stres tidak hanya sebagai hal yang akan mempengaruhi kondisi-kondisi yang lainnya, tetapi juga bisa menjadi suatu kondisi yang dipengaruhi oleh kondisi lainnya.
Trauma dipahami melalui konsep ketakutan atau goncangan yang terus berlangsung, tidak hanya saat peristiwa terjadi tetapi juga setelah kejadiannya. Akan menurun seiring individu mendapatkan penanganan yang tepat dari ahlinya. Freud pernah menerangkan bahwa trauma sebagai ketidak mampuan individu menggunakan egonya untuk mengatasi sebuah peristiwa yang sangat besar (Nagera 1990). Individu tidak sanggup menerobos hambatan besar yang menimpa dirinya. Hingga berdampak kepada ketenangan akan pikiran dan perasaan menjadi mengalami gangguan. Trauma lebih banyak melibatkan proses kognitif, yang mengakibatkan munculnya gangguan di dalam alam fikiran, yang juga mengakibatkan terjadinya kondisi tidak berdaya karena tertekan (Parent 2010).
Stres akibat peristiwa traumatis digolongkan menjadi stres destruktif, yaitu stres yang mengakibatkan munculnya disfungsi pada individu. Stres golongan ini tingkatannya sudah sangat berat dan beban stresnya sudah sangat berat juga, karena sudah mengganggu sistem fisik dan sistem kerja mental individu. Beberapa gejalanya ditampilkan dengan kinerja yang menurun, perilaku yang tidak etis, ketidak hadiran yang meningkat dan bahkan hingga pengunduran diri (Schermerhorn, Hunt dan Osborn 1995).
















