Opini :
TAUFIK HIDAYAT DAN PSIKOPAT
Sebuah Tinjauan Psikologis
(Bagian ke 1 dari 5 tulisan)
Oleh
Tugimin Supriyadi dan Ratih Dewayanti
Kasus kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap pasangannya yang menyebar luas di ruang publik baru‑baru ini memicu kemarahan sekaligus pertanyaan mendalam: apa yang ada di balik perilaku sadis yang begitu keji, tidak berperikemanusiaan, dan tampak tanpa rasa bersalah? Seperti dikatakan Robert D. Hare, pakar utama studi psikopati dunia: “Psikopat bukanlah orang yang gila, melainkan orang yang tidak memiliki hati nurani—suatu kekurangan mendasar dalam struktur emosional dan moral yang membuat mereka mampu menggunakan dan menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah atau penyesalan”. Di Indonesia, masyarakat kerap memberi label cepat “psikopat”, namun menurut Singgih Dirgagunarsa, salah satu tokoh pendiri psikologi di tanah air: “Istilah ini sering disalahartikan dan disamakan dengan kejahatan semata, padahal psikopati adalah pola penyesuaian diri yang menyimpang dan berakar jauh lebih dalam”. Tulisan ini menyajikan analisis berbasis pengetahuan ilmiah dan pandangan ahli, bukan hasil pemeriksaan klinis langsung terhadap individu yang bersangkutan.
Kemarin Rabu 24 juni 2026, Polisi menyatakan telah menangkap tersangka Taufik Hidayat. Berbagai hujatan dan makian serta sumpah serapah ditujukan ke Taufik, namun di balik semua itu, kita perlu mengakaji dari sisi psikologis, ada apa dan bagaimana Taufik Hidayat, bisa sesadis dan setega itu terhadap pacarnya? INFOPlus menurunkan tulisan dari pakar psikologi Dr. Tugimin Supriyadi dari Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, yang juga mengajar Psikologi Kriminal dan juga Psikologi Forensik serta Psikologi Kepolisian. Diperkuat oleh seorang praktisi psikologi Ratih Dewanyanti, Psi.
Berdasarkan informasi yang viral secara terbuka, penganiayaan berat yang terjadi tidak hanya menyebabkan luka fisik yang nyata dan mengancam nyawa, tetapi juga meninggalkan jejak trauma emosional yang mendalam. Hal yang paling menonjol adalah ketidaksamaan yang mencolok antara penderitaan korban dengan sikap pelaku yang tampak dingin, tidak peduli, dan tanpa rasa penyesalan—sesuatu yang Kartini Kartono, pakar psikologi abnormal Indonesia, gambarkan sebagai ciri utama: “Ketidakmampuan merasakan dampak perbuatan terhadap orang lain adalah ciri khas yang membedakan kepribadian psikopat dari sekadar pelaku kemarahan sesaat”. Pola ini selaras dengan data kekerasan dalam hubungan intim yang tercatat di Indonesia.
















