SEMARANG,INFOPlus – Konsumsi rumah tangga kembali menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan I 2026. Dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap struktur ekonomi daerah, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5,08 persen (year on year/yoy) dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,84 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,87 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan tingginya konsumsi masyarakat didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi selama periode Tahun Baru, Imlek, dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.
“Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Tengah. Dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap struktur ekonomi daerah, pertumbuhannya tetap terjaga dan memberikan dorongan besar terhadap perekonomian,” ungkap M Noor,Kamis(25/6) pada acara media briefing di Kantor Perwakilan BI Jateng,Semarang.
Noor menyebutkan meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim liburan dan hari raya mendorong aktivitas belanja rumah tangga, perdagangan, transportasi, hingga sektor jasa.
Kondisi tersebut membuat permintaan domestik tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga memberikan kontribusi signifikan. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 9,61 persen (yoy), menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Jawa Tengah.
Kinerja investasi yang kuat tercermin dari pertumbuhan sektor konstruksi yang mencapai 11,91 persen (yoy), didorong pembangunan kawasan industri, proyek infrastruktur, dan berbagai proyek strategis yang masih berjalan.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,14 persen (yoy) seiring meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode libur dan hari raya. Adapun sektor industri pengolahan sebagai kontributor terbesar ekonomi Jawa Tengah dengan pangsa 32,69 persen tetap tumbuh positif sebesar 4,04 persen (yoy).
Di sektor eksternal, ekspor Jawa Tengah juga menunjukkan kinerja yang tetap positif meski perekonomian global masih menghadapi tantangan.
Permintaan terhadap produk-produk asal Jawa Tengah terus meningkat sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Bank Indonesia menilai kondisi ekonomi Jawa Tengah secara umum masih solid. Optimisme konsumen terjaga, aktivitas usaha terus berlangsung, intermediasi perbankan berjalan baik, serta inflasi tetap terkendali. Pada Mei 2026, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,86 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional.















