Memerangi Antraks di Jawa Tengah. Antraks dan Upaya Menjaga Keamanan Daging Pangan di Indonesia   

oleh

One health

Koordinator One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Profesor Wayan Tunas Artama mengatakan dampak perubahan iklim mendukung penyebaran penyakit zoonosis, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Juga mendukung munculnya penyakit-penyakit baru.

Perubahan iklim, kata Wayan mendukung bertahannya patogenitas atau mikroba pada penyakit-penyakit zoonosis. Dia mencontohkan misalnya di suatu daerah endemik antraks. Meskipun hewan ternaknya telah dikubur, namun bisa jadi masih ada sporanya. Di situ spora bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun di tanah. Spora ini bisa masuk melalui saluran irigasi ketika hujan turun.

Spora itu masuk ke pori-pori tanah, terbawa oleh akar rumput. Spora yang ada di rumput itu dimakan hewan ternak dan membunuh hewan ternak tersebut. Selain rumput, spora bisa masuk ke air yang diminum sapi. “Spora antraks bertahan dalam cuaca ekstrem,” kata Wayan.

INFO lain :  Kenapa 1 Desember Diperingati Hari AIDS Sedunia?

Curah hujan yang meningkat mendukung penyebaran spora, jangkauannya meluas ke mana-mana. Bisa jadi dari daerah yang terkena antraks dengan topografi tinggi menuju ke daerah yang lebih rendah ketinggiannya.  Misalnya dari daerah pegunungan menuju ke daerah bawah sekitarnya. Menurut Wayan, kasus antraks di Kulon Progo terjadi pada musim penghujan.

Hewan ternak, yakni sapi sakit mendadak dan kambing mati terus menerus karena terinfeksi bakteri antraks selama Oktober 2016 hingga Januari 2017. Sekali terkena antraks, maka daerah itu harus mendapatkan tindakan khusus.

INFO lain :  Stop Unggah Foto Berbikini

Daerah yang terkena antraks seperti Kulon Progo harus dipantau terus menerus, misalnya pengambilan sampel tanah secara rutin oleh Balai Besar Veteriner. Itu mengapa di tanah tempat sapi sakit dan disembelih harus ditutup dengan menggunakan semen sedalam 5-8 sentimeter.

Wayan menyebutnya sebagai betonisasi. “Spora itu bisa bangkit kapan saja. Bila semen itu dibongkar, maka spora bisa menyebar ke mana-mana dan bisa terjadi outbreaks antraks,” kata Wayan.

Dari sisi ekologi, perubahan ekosistem sangat mempengaruhi penyebaran antraks. Dia mencontohkan kasus antraks yang menyerang ternak burung unta milik PT Cisada Kemasuri di Purwakarta, Jawa Barat tahun 2000. Dahulu tempat itu tidak dipakai untuk aktivitas peternakan. Spora kemungkinan menyebar lewat tanah yang beralih fungsi menjadi lokasi peternakan burung unta.
Melibatkan kampus

INFO lain :  Usai Ulang Tahun, Ucapkan Kata Makian

Antraks salah satu penyakit zoonosis mematikan yang mendapat perhatian One Health Collaborating Center (OHCC). One Health merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada kolaborasi dokter hewan, dokter manusia, petugas kesehatan masyarakat, ahli epidemologi, ahli ekologi, toksologi, dan ahli lingkungan hidup. Kolaborasi itu bertujuan mendeteksi, mencegah, dan mengatasi penyakit infeksi emerging dan zoonosis di Indonesia.