Memerangi Antraks di Jawa Tengah. Antraks dan Upaya Menjaga Keamanan Daging Pangan di Indonesia   

oleh

Suwaryono adalah tetangga rumah keluarga Ngatijo yang ikut menyembelih sapi yang sakit mendadak. Menurut dia, penduduk di sana tak mengenal penyakit antraks. Di Dusun Ngaglik rata-rata tiap kepala keluarga punya tiga hingga empat sapi. Ada juga keluarga yang punya puluhan kambing. Setidaknya ada total 32 sapi dan 80 kambing milik 91 kepala keluarga.

Spora antraks di tanah

Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta menyatakan hasil uji laboratorium menunjukkan ada spora antraks pada sampel tanah yang diambil di lokasi penyembelihan sapi, yang sakit mendadak. Balai Besar Veteriner kemudian setiap tahun melakukan surveilans penyakit antraks berbasis risiko, termasuk Kulon Progo.

Surveilans itu mereka lakukan selama 3-5 tahun. “Petugas ambil sampel, mendata, menguji sampel tanah tiap tahun,” kata dokter hewan dari Balai Besar Veteriner Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta, Suhardi.

INFO lain :  Kenapa 1 Desember Diperingati Hari AIDS Sedunia?

Balai Besar Veteriner belum mengumumkan dari mana sumber penyebaran bakteri antraks yang masuk ke Kulon Progo berasal. Kasus antraks selama ini tidak pernah terjadi di Kulon Progo. Mereka masih melakukan uji hipotesis dan melakukan kajian analisis resiko secara epidemologi.

Suhardi yang juga Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Besar Veteriner Wates mengatakan, ada banyak faktor risiko yang menyebabkan bakteri itu menyerang Kulon Progo. Bakteri antraks muncul karena adanya spora antraks yang bersinggungan dengan udara. Spora antraks bisa menempel di mana saja, di air, udara, rumput, lainnya.

INFO lain :  Stop Unggah Foto Berbikini

Spora antraks yang menempel di rumput misalnya dimakan hewan ternak lalu masuk ke tubuh hewan ternak dan melumpuhkan hewan itu. “Waktu itu musim hujan. Tanah yang lembab dan stabil cenderung membuat bakteri spora antraks bertahan,” kata Suhardi.

Lalu lintas hewan ternak juga menjadi satu di antara faktor risiko yang bisa membuat hewan ternak terkena bakteri antraks. Setelah kejadian antraks, lalu lintas hewan ternak di Kulon Progo ditutup selama 21 hari.

Selain mengambil sampel tanah, pengendalian antraks dilakukan melalui pemberian vaksin dan antibiotik pada hewan ternak. Setiap tahun vaksinasi diberikan dua kali pada seluruh hewan ternak.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Drajad Purbadi, mengatakan sulit untuk melacak dari mana asal bakteri antraks yang menyerang sapi dan kambing warga Kulon Progo. Ia menduga, lalu lintas ternak bisa menjadi satu di antara faktor yang menyebabkan bakteri antraks menyerang hewan ternak.

INFO lain :  Usai Ulang Tahun, Ucapkan Kata Makian

Di dekat Desa Purwosari terdapat Pendem, pasar hewan ternak dengan lalu lintas hewan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dugaaan lainnya adalah sapi dan kambing memakan rumput maupun jerami yang tercemar bakteri antraks. “Belum bisa disimpulkan asal bakteri dari mana. Harus dilacak secara menyeluruh,” kata Drajad.