Memerangi Antraks di Jawa Tengah. Antraks dan Upaya Menjaga Keamanan Daging Pangan di Indonesia   

oleh

Tidak hanya sapi, di dusun lainnya, berjarak dua kilometer dari Dusun Ngaglik terdapat 20 ekor kambing yang mendadak sakit dengan ciri-ciri terkena bakteri antraks pada periode November 2016 hingga Januari 2017. Selain Ngaglik, kambing mati mendadak di Dusun Ngroto dan Penggung.

Kepala Dusun Ngroto, Suyatno, mengatakan dampak antraks melumpuhkan perdagangan hewan ternak di Desa Purwosari selama berbulan-bulan. Harga sapi dan kambing dari sana anjlok hingga 50 persen. “Kami perlu waktu yang lama untuk pulih dan meyakinkan blantik (pedagang sapi) datang membeli sapi dan kambing,” kata Suyatno.

Harga sapi umur 6 bulan per ekor misalnya turun dari Rp 14 juta menjadi Rp Rp 7 juta. Kambing dari harga Rp 1 juta per ekor menjadi Rp 500 ribu. Sapi dan kambing dari Purwosari dijual kepada para blantik yang mendatangi rumah-rumah penduduk. Transaksi hewan ternak berjalan di pasar hewan Pengasih di Kulon Progo. Hewan ternak yang keluar masuk ke sana di antaranya berasal dari Magelang dan Purworejo.

INFO lain :  Kenapa 1 Desember Diperingati Hari AIDS Sedunia?

Dampak antraks tak hanya merugikan warga Purwosari secara ekonomi. Suyatno berharap kasus antraks tidak terulang di Purwosari. Pemerintah Kulon Progo, kata dia seharusnya menambah jumlah dokter hewan untuk memeriksa hewan-hewan ternak mereka secara rutin. “Kalau cuma lima dokter hewan menangani satu kecamatan kurang,” kata Suyatno.

INFO lain :  Stop Unggah Foto Berbikini

Desa Purwosari berjarak 30 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Desa ini berada di bukit Menoreh, berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Desa ini menjadi langganan longsor dan satu di antara desa miskin di kabupaten dengan urutan paling miskin di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik DIY pada medio 2017 menetapkan Kulon Progo sebagai kabupaten paling miskin di Yogyakarta. Desa ini memiliki 27 ribu total penduduk. Kabupaten ini punya 12 kecamatan dengan total penduduk 470.520 jiwa.

Sebagian penduduk Desa Purwosari tinggal di permukiman di antara tebing-tebing di bukit menoreh. Mereka rata-rata keluarga miskin yang mengandalkan hasil pertanian dan peternakan.

INFO lain :  Usai Ulang Tahun, Ucapkan Kata Makian

Kandang-kandang sapi dan kambing mereka berdekatan dengan rumah tinggal penduduk. Rata-rata kandang berjarak 2-7 meter dari rumah.  “Sapi dan kambing jadi tabungan untuk kebutuhan mendesak, misalnya hajatan,” kata Suyatno.

Kepala Dusun Ngaglik, Suwaryono mengatakan setelah terjadi antraks, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo secara intensif memberikan vaksin pada seluruh hewan ternak. Suwaryono diminta mendata semua penduduk yang punya hewan ternak untuk mendapatkan jatah suntik vaksin dua kali setiap tahun. “Kami juga diminta untuk menjaga kebersihan kandang,” kata dia.