Boyolali saat ini punya populasi sapi perah yang besar, yakni 92 ribu ekor dan 96 ribu sapi potong. Kabupaten ini ditetapkan sebagai daerah endemik antraks. Lalu lintas hewan ternak yang tinggi menjadi satu di antara faktor risiko yang bisa menyebarkan antraks ke mana saja.
Populasi Sapi Potong dan Sapi Perah Jawa Tengah – Sensus Kementan 2013
Populasi Sapi Potong dan Sapi Perah DI Yogyakarta – Sensus Kementan 2013
Antraks terjadi berulang di Boyolali sehingga daerah ini disebut endemik antraks. Kasus antraks terakhir terjadi di Dusun Tangkisan, Karangmojo, Klego, Boyolali. Sapi yang Ramelan dan Raminah sakit mendadak, tiga hari setelah dibeli dari pasar hewan di Boyolali.
Mereka kemudian menyembelih sapi itu dan menjual dengan harga murah ke tetangga. Ramelan dan Raminah yang berkontak langsung dengan sapi terkena bakteri antraks itu menderita sakit antraks kulit. “Saya terkena di bagian mata,” kata Ramelan.
Penyakit ini menimbulkan kepanikan dan kerugian yang besar. Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat kerugian karena serangan bakteri antarks ditaksir dua miliar rupiah per tahun di Indonesia.
Antraks di Sleman
Antraks masuk dalam daftar penyakit hewan menular strategis zonosis dan endemis di beberapa wilayah di Indonesia. Tahun 1991 Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat pernah terjadi kasus antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tapi, tidak disebutkan secara spesifik kabupaten mana yang terkena antraks.
Sleman pernah mengalami serangan antraks pada 2003. Tiga ekor sapi perah mati mendadak. “Hasil uji sampel menunjukkan positif antraks,” kata dokter hewan di Sleman, Sigit.
Waktu itu, ia terjun langsung menangani kasus antraks di Sleman. Sapi yang positif antraks berada di Kaliurang Barat, berjarak sekitar 7 kilometer dari Gunung Merapi. Sapi yang terkena antraks lalu dibakar dan dikubur.
Gejala antraks pada hewan ternak di antaranya demam tinggi, sapi mati dengan tanda-tanda keluar darah hitam di seluruh lubang tubuh. Sapi-sapi itu mati di Dusun Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem.
Antraks menyerang Kulon Progo November 2016 hingga Januari 2017. Seekor sapi dan 13 kambing mati mendadak di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo. Tiga dusun yang terserang antarks yakni Ngroto, Ngaglik, Penggung.
Sapi milik Ngatijo kejang-kejang, sempoyongan, lalu ambruk di kandang pada 12 November 2016 di Dusun Ngaglik, Purwosari, Girimulyo. Ngatijo yang sedang membersihkan kandang terkejut. Keluarga Ngatijo dan tetangga di samping kanan dan kiri menganggap sapi itu hanya sakit biasa. Mereka tak tahu sapinya terkena bakteri antraks. “Kami mengira sapi cuma masuk angin,” kata Eko, menantu Ngatijo.
















