kita akan berciuman sambil
melihat api bekerja.
Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (Beni Satrio, Puisi)
Jika sastra membawa ke arah “pembebasan” dan “pencerahan”, barangkali orang pertama yang mendapat itu adalah Beni Satrio. Setelah itu, ia duduk dan termenung untuk menulis pwiesie. Dikumpulkannya pwiesie-pwiesie itu, kemudian dibukukan. Hasilnya: sebuah buku “Pendidikan Jasmani dan Kesunyian”.
Cara seorang Beni Satrio mengajak main-main sambil serius dari pwisie memang menarik. Guyon, satir dan kemalangan bisa tertuang dalam satu pwiesie secara bersamaan.
Ketika kita tahu apa yang dilakukan Joko Pinurbo agar supaya puisinya bisa dilik oleh pembaca sastra dengan “memilih jalan lain dari penyair kebanyakan dan memilih tema-tema yang unik”, maka yang dilakukan Beni Satryo adalah nyungsep ke tanah paling dalam hingga menemukan sendiri gayanya. Ia masuk ke dalam, ke hal-hal yang lebih nyata dan ada. Pwiesie “Di Restoran” selalu berhasil membuat kita melihat diri. Untuk sebuah kebutuhan dasar saja, makan, kita tidak sulit terpenuhi. Bisa, tapi ada yang harus lebih mahal dari yang kita bayar: gengsi.
Kau bertanya banyak hal/saat kita mampir di restoran itu// ini apa? lada/ini? garam dan saus/itu apa? pisau dan garpu/itu?// kau menunjuk sesuatu yang mengalir/dari kedua mataku yang hambar/aku menunjuk struk-struk yang terselip/di bawah mangkuk acar// itu apa?/harga yang harus kita bayar.
Hap! (Andi Gunawan, Puisi)
Yang acap kali dikeluhkan dari pembaca puisi adalah selalu kesulitan mendapat maksud dan/atau pesan yang disajikan si penyair. Sulit menjelaskannya, bahkan Sapardi Djoko Damono sampai khusus membuat buku tentang itu. Tapi, cobalah baca “Hap!” sampai selesai. Barangkali setelah itu bukan hanya bisa mulai memahami puisi, bisa jadi kamu akan mencintai puisi.
“Hap!” yang ditulis Andi Gunawan ini bisa mengawali cikal-bakal di mana puisi mulai digandrungi netizen. Sewaktu twitter masih menggunakan 140 karakter, puisi-puisi Andi Gunawan deras membanjiri linimasa. Singkat dan dengan bahasa(-puisi) yang ketat.
Banyak menceritakan kerinduan, kenakalan masa muda dan penuh kekhawatiran akan percintaan. Namun, puisi-puisinya menjadi menarik, karena dilihat dari sudut pandang seperti orang yang tengah sembunyi: hati kecil kita. Kejujuran itulah yang kadang bias dalam dunia fiksi dan Andi Gunawan berhasil melakukannya. Puisi kesukaan saya tentu yang berjudul “Ekor Cicak”: kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa hatiku ekor cicak.
***
Bagaimana mungkin kita bisa merayakan satu momen, yang hanya ada satu kali dalam setahun, dengan baik jika itu dengan mudah terlewat? Semisal, Bulan Bahasa. Namun, biar bagaimanapun, kita tetap (atau, terpaksa?) merayakannya juga, bukan?
















