Buku Fiksi yang Bisa Diwariskan hingga ke Generasi Kesekian

oleh

Sebagai pengunjung tetap yang-kadang-diminta-menjaga, tentu tidak banyak yang bisa saya lakukan. Lebih sering mendokumentasikannya dengan memotret buku-buku yang baru datang dan mencatat apa yang akan dipinjam untuk dibawa pulang. Nah, saat-saat seperti itulah momen di mana buku tidak hanya dinasibkan untuk dibaca, tapi juga (di)hilang(kan).

***

Buku mengisi jam-jam kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanya penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya, kata pertama yang menakjubkan adalah: “BACALAH”. –Goenawan Mohamad dalam Pagi Dan Hal Yang Dipungut Kembali.

***

Clara Ng sangat krtitis lho tentang tangga pembaca di Indonesia. Baginya, tangga pembaca di Indonesia masih tertatih-tatih. Indikator yang digunakan adalah buku-buku yang semestinya diperuntukan untuk anak atau pra-remaja, justru diperdagangkan untuk orang dewasa. Dan pada akhirnya pun kita jadi tahu: orang dewasa jadi mengonsumsi bacaan anak-anak atau pra-remaja.

INFO lain :  Saat Polri Berubah

Sial yang kemudian didapati anak-anak tentu akses bacaannya. Ini adalah kemunduran. Pembodohan yang mesti dihentikan. Sudah selayaknya anak-anak mendapat bacaannya dan orang dewasa memilih bacaan yang semestinya.

Saya ingat betul Aan Manyur pernah mencuitkan ini: “someday twitter will end. you need to find your own offline social media back. i recommend you library.”

INFO lain :  CATATAN REDAKSI# Penerapan MBKM Perlu Mendasarkan Prinsip-Prinsip Filsafat Pendidikan

Ada paradoks memang dalam cuitan itu. Di mana Generasi Milenial melulu digantungkan oleh aktifitas di dunia maya, tapi mesti kembali pada hal-hal konvensional seperti perpustakaan (dan buku-buku yang tersimpan). Namun, melihat bagaimana pengunjung dan pembaca di Perpustakaan Teras Baca ada rasa optimistis perlahan hadir. Meski sedikit.

Di antara beragam jenis buku di Perpustakaan Teras Baca, buku fiksi adalah buku yang dominan dibaca. Wabil khusus, novel. Ada juga yang suka buku non-fiksi seperti kumpulan esai, tapi tidak sedikit yang membaca buku how-to-be. Buku-buku anak, kebanyakan berbentuk majalah, masih suka diminati bila ada kunjungan dari PAUD atau Taman Kanak-kanak.

INFO lain :  Jokowi dan Suara Pengusaha

Ada sedikit rasa penasaran mengetahui sebab-musababnya. Namun, melihat ke-khusu-an mereka membaca, secapat itu pula penasaran saya hilang. Mau membaca itu sudah jauh lebih baik tinimbang meminjam buku sahaja!

Melihat kenyataan seperti itu, akhirnya saya coba menyusun tangga bacaan di Perpustakaan Teras Baca yang suka dan/atau sekiranya pantas untuk direkomendasikan untuk Generasi Milenial era kiwari. Siapa tahu juga dari tangga bacaan ini bisa diwariskan oleh Generasi Milenial hingga generasi ke-sekian, bukan?