Pulang (Laila S. Chudori, Novel)
Sejarah tidak hanya bisa ditulis oleh pemenang. Siapapun bisa dan berhak untuk melakukannya. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu: kebenaran yang bisa diverikisi dan klarifikasi. Banyak riset yang dilakukan, pengelompokan data dan fakta untuk diricek. Itulah yang diceritakan Laila S. Chudori dalam novelnya yang fenomenal: Pulang.
Novel ini berkisah tentang empat eksil politik Indonesia 30 September 1965. Peristiwa itu, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya, menjadi yang monumental bagi sejarah panjang Indonesia –sampai sekarang.
Cerita-cerita tentang para eksil politik Indonesia itupun mulai bermunculan. Baik berupa laporan tentangnya, sampai karya-karya sastra. Novel “Pulang” karya Laila S. Chudori adalah satu di antaranya. Buku ini menjadi amat penting dibaca karena, memang banyak yang belum selesai dari cerita-cerita seputar ’65. Yang selesai dari itu semua, seperti yang kita tahu: pelan-pelan melupakannya.
Cerita Buat Para Kekasih (Agus Noor, Kumcer)
Mengisahkan banyak cerita cinta masyatakat urban keseluruhan, kumcer “Cerita Buat Para Kekasih” menawarkannya secara terang-terangan. Tentang perselingkuhan, short-time di sebuah apartemen dan tarik-ulur ingatan masa lalu yang menyakitkan. Agus Noor dengan kelihaiannya mencampuradukan antara puisi dan prosa membuat setiap cerita menjadi menarik. Sudah begitu bertabur kutipan-kutipan yang instagram-able yang generasi Milenial bisa gunakan.
Cerita-cerita dalam kumcer ini menjadikan generasi Milenial dekat dan akrab. Bahkan saking dekatnya, pasti bisa merasakan bahwa kisahnya yang dituliskan. Bisa akhirnya baper atau sebal sendiri. Tergantung layer kisah mana yang diceritakan.
Entah ada kaitannya atau tidak, saya kira, karena judulnya adalah “Cerita Buat Para Kekasih”, maka bentuk buku ini dibuat seakan ada yang bercerita dan mendengarkan. Dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi foto hitam-putih, pembaca menjadi mudah membayangkan: bahwa cinta memang bisa begitu kelam.
Bakat Menggonggong (Dea Anugerah, Kumcer)
Butuh sedikit kesiapan lebih untuk membaca kumcer “Bakat Menggonggong”. Setidaknya untuk hal-hal yang bisa tiba-tiba mengejutkanmu. Apalagi jika kamu pernah mendapat kiat-kiat menulis (cerpen atau apa saja), coba singkirkan terlebih dulu. Dalam buku “Bakat Menggonggong”, Dea Anugerah adalah antithesis dari yang selama ini kamu tahu.
Banyak berlatar daerah pinggiran perkotaan besar, membuat cerita-cerita yang diangit Dea Anugerah ini menjadi suara-suara “riwil” memandang gemerlapnya perkotaan. Kelucuan yang amat satir, kesedihan yang tidak dibuat mendayu, sampai kebingungan karena terjebak dalam cerita bisa kamu dapatkan.
















