Buku Fiksi yang Bisa Diwariskan hingga ke Generasi Kesekian

oleh

Tapi tentang tokoh Sungu Lembu dalam novel “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” ini akan mengajarkan satu hal: bagaimana ia bisa merawat dendam sebegitu dalam dan mengakhirinya dengan kebaikan. Itu yang mesti ditanamkan generasi Milenial mulai sekarang.

Si Parasit Lajang (Ayu Utami, Novel)

Ini hanya pandangan saya saja. Koreksi jika keliru. Satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan Indonesia agar supaya semaju negara Jepang, adalah menyikapi sebuah pernikahan. Seperti sebuah kemunafikan (maaf, jika terlalu kasar) yang tidak bisa dielakkan.

Pernikahan, bagi kebanyakan orang Indonesia, bukan lagi privilege. Setelah menikah kemudian orang-orang mulai menanyakan “kapan punya anak?” Jika sudah punya anak muncul pertanyaan lain, “kapan lagi nambah dedek bayinya?” Dan seterusnya, dan sebagainya pertanyaan serupa akan muncul. Pedahal, punya anak atau tidak, adalah urusan keluarga masing-masing. Memang orang-orang yang bertanya itu ingin ikut menafkahi juga?

INFO lain :  Saat Polri Berubah

Dan isi novel “Si Parasit Lajang” menceritakan tokoh A adalah perempuan yang melawan konstruksi sosial yang kadung mencemari lingkungannya. Ia memilih lebih baik untuk tidak menikah saja. Kalaupun nantinya menikah, (yha, pada akhirnya si A menikah) mesti ada concent di dalamnya. Seperti di Jepang.

Saya kira, persoalan-persoalan yang dimunculkan Ayu Utami dalam novel ini, kelak akan menjadi sesuatu yang di hadapkan generasi Milenial ini. Dan novel ini tentu memberi alternatif sikap kita melihat setiap persoalan.

INFO lain :  CATATAN REDAKSI# Penerapan MBKM Perlu Mendasarkan Prinsip-Prinsip Filsafat Pendidikan

Jalan Lain ke Tulehu (Zen RS, Novel)

Politik ingatan. Istilah itu baru kali ini saya dapati di novel “Jalan Lain ke Tulehu”. Mumpung kini sedang ramai-ramainya generasi Milenial ikut terjun langsung pada gelanggang Politik di Indonesia, cobalah baca novel ini.

Dengan menggunakan batang-tubuh kisah Ita Martadinata Haryono, seseorang aktivis perempuan HAM Indonesia, yang tewas dibunuh secara misterius saat kerusuhan Mei ’98. Ingatan dan kenangan, oleh Zen RS, dibuat seakan tanpa sekat. Silih berganti masuk dan keluar pada cerita.

Secara sadar atau tidak, sikap politik kita lahir dari ingatan-ingatan yang dikurasi oleh banyak faktor. Namun, yang terbesar adalah diri sendiri. Perjalanan panjang itu kadang kita ringkas dan potong seenaknya. Seakan peristiwa ini tidak sama sekali berkaitan dengan peristiwa itu. Pembabakan inilah yang kemudian Zen RS tulis dalam novelnya yang dibalut dengan keriangan olahraga sepakbola. Olahraga yang satu waktu bisa menyatukan dan sekaligus memecahbelah. Seperti politik, seperti sikap kita terhadap pilihan politik oranglain. Seperti dua sisi logam, novel ini merupakan sisi yang lain dari film “Beta Maluku: Cahaya dari Timur”.