Buku Fiksi yang Bisa Diwariskan hingga ke Generasi Kesekian

oleh

Buku ini menjadi 5 besar nominasi Kasula Sastra 2017. Walau pada akhirnya tidak menang, dunia kesusastraan Indonesia kini patut menanti karya-karyanya kelak. Apalagi ditambah gaya kepenulisannya yang mempuni, akan menambah kepuasan membaca tiap ceritanya. Bisa jadi, Dea Anugerah adalah sosok terpenting Generasi Milenial dalam hal kesusastraan era kiwari.

Sarapan Pagi Penuh Dusta (Puthut EA, Kumcer)

Patah hati, sedih dan murung. Tiga hal itu seakan lekat pada cerpen-cerpen Puthut EA. Tapi, yang membuatnya cerpen-cerpennya menarik adalah, sesuatu yang sudah amat biasa tentang kisah patah hati, sedih dan kemurungan, oleh Puthut EA diramu dengan narasi-narasi yang kuat dan dramatis (dramatis tidak sama dengan melo-drama-mendayau-dayu).

INFO lain :  Saat Polri Berubah

Patah hati, patah hati lagi, lagi-lagi patah hati dan akhirnya tidak peduli sendiri. Bahwa hidup terus berlanjut walau kesedihan datang secara runut. Lebih atau kurang, twist semacam itulah yang disajikan Puthut EA ini. Membaca tulisannya, kita akan serasa mendengar teman yang sedang curhat. Ia bisa menjelma menjadi tokoh manapun dalam setiap ceritanya.

Hal seperti itulah yang barangkali kini sudah jarang ditemukan dengan kemapanan teknologi sekarang ini. Jarang ada waktu untuk sekadar bertemu, untuk sakadar berbagi cerita sambil ngopi-ngopi. Buku ini seakan muncul di antara kesepian-kesepian yang kini banyak kita alami.

INFO lain :  CATATAN REDAKSI# Penerapan MBKM Perlu Mendasarkan Prinsip-Prinsip Filsafat Pendidikan

Melihat Api Bekerja (Aan Mansyur, Puisi)

Memadukan dongeng dengan puisi itu bukan perkara mudah, tapi Aan Mansyur melakukannya. Semacam ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Aan Mansyur ketika menulis puisi-puisi dalam buku ini. Sesuatu yang tidak bisa diimbuhi dengan kata-kata yang hiperbol, pesan yang tidak juga bisa ditegaskan dengan lugas. Maka, barangkali, Aan Mansyur membuat buku ini.

Menyelami pikiran “kacau” Aan Mansyur dalam puisinya, seperti memasuki kota tanpa arah dan petunjuk. Jika ingin ke tempat A, maka bisa lewat J kemudian putar balik di S. Atau mungkin malah tersesat. Tapi biarlah, lewat puisinya, Aan Mansyur menawarkan kebebasan yang baku, bahwa kebaradaan alternatif itu perlu.

INFO lain :  Jokowi dan Suara Pengusaha

Melihat Api Bekerja juga termasuk bentuk sikap feminisme Aan Mansyur yang terlihat. Bahwa bersedih adalah hak semua umat. Siapa saja boleh bersedih; laki-laki maupun perempuan. Dan kesedihan, dalam puisi-puisi Aan Mansyur bukanlah kekeliruan atau dosa besar. Namun, “kekacauan” yang sempat disebut di atas bisa terlihat dalam puisinya yang berjudul seperti judul bukunya:

Selebihnya, tanpa mereka tahu,
sepasang kekasih diam-diam
ingin mengubah kota ini jadi
abu. Aku mencintaimu dan kau
mencintaiku –meskipun tidak
setiap waktu. Kita menghabiskan
tabungan pernikahan untuk beli
bensin