Meningkatkan Emosi dan Stres, Iklan yang Menutupi Konten Bisa Digugat

oleh
iklan tutupi konten berita
Iklan tutupi sebuah konten berita, bisa picu stres bagi pembacanya. (Foto Ist)

Bentuk emosi seseorang yang kebutuhan konsentrasinya pada sebuah konten terganggu, bisa menunjukkan ekspresi marah, jengkel dan bahkan emosinya bisa memuncak.

Emosi sendiri artinya adalah  perasaan yang kita miliki ketika berada dalam situasi tertentu atau ketika berhubungan dengan seseorang yang dianggap penting. Secara garis besar emosi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu: Faktor dari dalam diri (kondisi fisik, temperamen, sistem saraf, dan struktur otak)

Untuk memberi pemahaman yang mendekati sempurna tentang definisi emosi, perlu kita pahami bahwa emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila kita berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya (William Kames, dalam Wegde, 1995).

Sementara itu Crow & Crow (1962) mengartikan emosi sebagai suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan hidup. Lain halnya dengan pendapat English and English (2004) , yang mengatakan bahwa emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris).

INFO lain :  Kenakalan Remaja : Sebuah Fenomena Psikologis

Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono, emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).

Stres itu sendiri secara umum diartikan sebagai ketidak mampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual manusia. Dimana semua itu dapat mempengaruhi kesehatan fisik bagi pengidap stres, biasanya orang yang sedang terkena stres akan mengalami rasa takut, cemas, frustasi, bimbang, cemas, rasa bersalah, khawatir dan lain sebagainya.

INFO lain :  Eks Koruptor dan Ambiguitas KPU

Stres menurut Hans Selye dalam Sary (2015) menyatakan bahwa stress adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang telah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gelaja stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

INFO lain :  PENUGASAN BERDIFERENSIASI SESUAI GAYA BELAJAR SISWA

Kesimpulan kecil dapat sebutkan bahwa bahwa stres adalah respon individu terhadap stimulus yang secara objektif adalah berbahaya yang dapat mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Stres emosi dapat menimbulkan perasaan negatif atau destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stres intelektual akan mengganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah, dan stres sosial akan mengganggu hubungan individu terhadap kehidupan.