Jika ini terus berlanjut, maka yang lahir bukan sekadar generasi masa bodoh, tapi bangsa yang secara kolektif memutus hubungan dengan masa depannya sendiriβbangsa yang kehilangan imajinasi, kehilangan dorongan untuk berubah, dan akhirnya kehilangan alasan untuk bertahan.
Saat otak publik berhenti membayangkan kemungkinan, maka stagnasi bukan lagi risiko, tapi takdir yang dipelihara.
Kita akan menjadi negara yang sibuk bertahan hari ini, tapi buta arah esok hari.
Sebenarnya, inilah bentuk pengondisian paling halus tapi paling kejam dalam politik modern: membentuk rakyat untuk menganggap keterpurukan sebagai kenormalan.
Kita dijejali narasi tentang “ketahanan”, “kesabaran”, dan “syukur” sebagai obat bagi penderitaan sistemikβseolah-olah diam adalah moralitas tertinggi.
Ketimpangan dibungkus dalam slogan kebanggaan, dan ketidakadilan disamarkan dengan simbol-simbol nasionalisme yang memabukkan.
Bahkan, dulu saya pernah mencermati sejumlah pihakβtermasuk pejabat publikβyang menyatakan bahwa βkita ini miskin tetapi bahagia, dan itu kenyataan, masih bisa bersyukur meskipun masih miskin tetapi tidak sedih.β Kalimat itu dikatakan Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, mengomentari data iBangga yang menunjukkan indeks kebahagiaan Indonesia sebesar 72, sementara skor kemandirian hanya 51 dan ketenteraman 56β57 (Kumparan, 3 Agustus 2024).
Pernyataan seperti ini adalah potret sempurna bagaimana penderitaan distilir menjadi kebanggaan. Ia bukan sekadar miskomunikasi, tapi hasil dari pengondisian persepsi publik selama puluhan tahun.
James C. Scott, dalam Weapons of the Weak (1985), menyebut kondisi ini sebagai bentuk perlawanan diamβdi mana rakyat, tak lagi bisa bicara keras, memilih membungkus perlawanan dalam bentuk pasif: ketidakpatuhan halus, sinisme sunyi, dan pembangkangan dalam bentuk ketidakpedulian.
Namun dalam konteks hari ini, diam itu tak lagi hanya strategi. Ia telah menjadi bagian dari struktur neurologis. Sebuah diam yang dilatih oleh kebisingan yang terus-menerus.
Sebuah ketidakpedulian yang lahir dari kelelahan berpikir. Ingin saya ingatkan; ini alarm paling bahaya dari tanda jatuhnya sebuah bangsa. Karena sejarah sudah mencatat: Uni Soviet runtuh bukan hanya karena ekonomi dan militer, tapi karena publik kehilangan rasa percaya terhadap masa depan, dan rakyat memilih diam ketimbang melawan.
Venezuela mengalami degradasi politik yang mirip: rakyat kehilangan energi dan makna untuk memperjuangkan perubahan.
Ketika rakyat kehilangan harapan, maka negara kehilangan daya dorong. Maka jika hal ini dibiarkan, boleh jadi Indonesia Emas 2045 tak lebih dari slogan yang menggantung di dinding birokrasiβindah di kertas, hampa di kenyataan.
















