π—žπ—œπ—§π—” π—§π—œπ——π—”π—ž 𝗕𝗒𝗗𝗒𝗛, 𝗛𝗔𝗑𝗬𝗔 π—Ÿπ—˜π—§π—œπ—› Taufiq Fredrik Pasiak (Ilmuwan Otak, Dekan FK UPN Veteran Jakarta)

oleh

Jean Decety, salah satu pakar neurosains sosial dari University of Chicago, dalam penelitiannya tentang neurobiologi empati (The Neuroevolution of Empathy, 2011), menjelaskan bahwa empati sosial tidak bisa tumbuh dalam kondisi yang penuh ancaman dan ketidakpastian.

Saat tubuh merasa tidak aman, sistem limbikβ€”khususnya amigdalaβ€”mengambil alih pusat kendali. Otak masuk ke dalam mode bertahan hidup: refleks mendahului refleksi, dan insting menggantikan dialog. Dalam kondisi ini, fungsi-fungsi luhur otak seperti rasa ingin tahu, keberanian bertanya, atau dorongan untuk memahami, akan direm. Yang tersisa hanya satu: bertahan. Maka tak heran jika yang terjadi bukan perlawanan terbuka, melainkan penyesuaian halus terhadap keadaan. Tunduk menjadi pilihan rasional. Bukan karena rakyat tak punya nalar, tetapi karena nalar sedang sibuk menyelamatkan kewarasan dari gelombang ancaman yang datang bertubi-tubi. Saya sering mendengar kalimat: “Kenapa rakyat diam saja?” atau “Kenapa mereka tetap memilih orang yang sama?” Jawaban sederhananya: karena rakyat telah mengalami desensitisasi emosional. Dalam psikologi, ini disebut emotional numbingβ€”kondisi di mana sistem saraf sudah terlalu sering terpapar stimulus negatif, sampai akhirnya tak lagi merespons. Sama seperti suara sirene yang makin lama terdengar biasa, penderitaan pun bisa terasa seperti rutinitas. Dalam konteks ini, keputusan politik rakyat bukan hasil kebodohan, tapi hasil adaptasi neurologis terhadap sistem yang tidak memberi ruang aman untuk berpikir dan merasa.
Apa yang harus kita lakukan saat ini? Kita harus mulai dengan membangun kembali ruang amanβ€”bukan hanya secara fisik, tapi psikologis dan neurologis. Ruang di mana rakyat bisa berpikir tanpa takut, merasa tanpa dibungkam, dan menilai tanpa dimanipulasi. Karena demokrasi tak mungkin tumbuh dalam atmosfer ancaman dan kebisingan. Pemerintah harus berhenti menciptakan narasi semu dan mulai menyediakan oksigen bagi akal sehat: informasi yang utuh, kebijakan yang jujur, dan partisipasi yang sungguh-sungguh. Pendidikan politik harus difokuskan untuk mengaktifkan kembali prefrontal cortex masyarakatβ€”bagian otak yang bertanggung jawab atas refleksi, empati, dan pengambilan keputusan rasional.

Bukan dengan menyuapi jargon, tapi dengan melatih keberanian berpikir dan keberanian bertanya. Kalau bangsa ini mau bertahan, pemulihan harus dimulai bukan hanya dari ekonomi dan infrastruktur, tapi dari upaya merawat otak sosial rakyat.

INFO lain :  Mengenal Intervensi Sosial dan Tahapannya (Study kasus Agus Salim korban penyiraman air keras)
INFO lain :  Meningkatkan Emosi dan Stres, Iklan yang Menutupi Konten Bisa Digugat

Merawat bangsa berarti merawat otak kolektifnya. Dan bangsa yang otaknya terus-menerus disuguhi ancaman, tipu daya, dan kebohonganβ€”adalah bangsa yang sedang dipersiapkan untuk mati rasa secara sistematis. *