Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal

oleh
Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal
Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal (Foto: Dibuat dengan Aplikasi Canva)

Dalam pandangan humanistik, perasaan inferioritas seseorang merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara aspirasi individu untuk tumbuh dan berkembang dengan realitas atau lingkungan sekitarnya yang mungkin menghambat pencapaian itu. Berdasarkan hasil tes, subjek adalah seorang penyendiri yang tertutup dan kurang membuka diri. Cenderung menjaga jarak dan terkesan formal. Meskipun begitu, subjek cukup efektif dalam menangani kesendiriannya lewat hal-hal menyenangkan yang bisa dilakukan sendiri olehnya. Menurut wawancara, subjek memang sering menghabiskan waktu untuk membaca buku seperti novel atau sejarah.

Individu yang merasa inferior mungkin mengalami kebingungan atau rasa tidak berdaya ketika mereka tidak dapat mencapai potensi atau tujuan mereka. Berdasarkan hasil tes, subjek seorang yang pemalu sehingga terkadang merasa sulit berbicara di hadapan sosial. Subjek cenderung menghindari keterlibatan dengan orang lain. Selain itu, subjek sering merasa gelisah, ragu-ragu dan cenderung merasa bersalah. Adapun perasaan cemas dan tidak aman yang dialami subjek ketika memikirkan tentang perkuliahan dan merasa tertinggal dengan pencapaian teman sekelasnya. Perasaan inferior yang dialami subjek juga tercermin pada saat mengerjakan tes, subjek sering mengeluh bahwa tesnya sulit dan sering mengatakan “saya tidak tahu jawabannya”. Namun, meskipun subjek sering merasa ragu saat tes, ia mampu menyelesaikan tes sampai akhir.

Diagnosis dan Prognosis

Diagnosis

Diagnosis Hasil asesmen yang dilakukan dan berdasarkan rujukan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Editionn (DSM-V), maka ditegakkan diagnosis bahwa subjek mengalami Avoidant Personality Disorder. Sedangkan menurut konsep yang diperkenalkan oleh Alfred Adler, subjek mengalami Inferiority Complex. Ditunjukkan dengan hasil tes bahwa subjek penyendiri, pribadi yang tertutup, merasa gelisah, adanya keragu-raguan, merasa cemas dan tidak aman, merasa cemas juga sensitif terhadap reaksi orang lain yang juga membuat dirinya merasa sulit untuk berbicara di hadapan kelompok atau lingkungan sosial.

INFO lain :  Bangga
INFO lain :  Atasi Polisi Bunuh Diri. Pengamat Sarankan Pemegang Senpi Diperketat Psikotest
Prognosis

Berdasarkan hasil asesmen psikologi yang telah dilakukan terkait dengan potensi dan kelebihan subjek, maka dapat diprediksikan prognosis memb terhadap hasil intervensi adalah positif. Berdasarkan hasil tes IST, subjek memiliki skor IQ sebesar 96 yang tergolong rata-rata. Pribadinya yang cenderung serius dan formal membuat subjek lebih berhati-hati dalam melibatkan orang lain di kehidupannya. Subjek juga menunjukkan adanya keterbukaan atas perubahan dan inovatif. Pola pikir yang kritis membuat dirinya memiliki otonomi diri yang tinggi dan berhati-hati dalam mengambil keputusan dan bertindak.

INFO lain :  Stop Politik Alienasi

Metode Intervensi

Metode intervensi humanistik untuk Avoidant Personality Disorder (APD) dapat mencakup pendekatan yang berfokus pada pengembangan keterampilan interpersonal, meningkatkan self-awareness, serta membangun rasa percaya diri. Oleh karena itu, pendekatan humanistik akan menekankan pentingnya pengakuan akan nilai-nilai individu, pengembangan diri yang holistik, serta penciptaan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan kemampuan untuk meraih aspirasi yang positif. Konseling eksistensial humanistik membantu klien dalam mengatasi perasaan rendah diri dan menggali potensi yang tersembunyi dalam diri klien. Konseling eksistensial humanistik dapat dibantu dengan teknik terapi Client Centered Person (Hidayat, 2011).