Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal

oleh
Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal
Perasaan Inferioritas Pada Dewasa Awal (Foto: Dibuat dengan Aplikasi Canva)

Kompleks inferioritas ini juga berpengaruh pada hubungan sosial antara seseorang dengan lingkungannya. Perasaan inferior cenderung menghindari orang lain karena ketidakpercayaan dirinya untuk diterima di lingkungan. Individu dengan gangguan kepribadian menghindar cenderung merasa tidak nyaman dalam situasi sosial, cenderung menghindari interaksi, dan sering merasa tidak berharga atau tidak pantas. Dalam kehidupan dewasa awal, gejala ini dapat mempengaruhi hubungan pribadi, pendidikan, dan karir mereka secara signifikan. Pemahaman mendalam tentang gangguan ini penting untuk meningkatkan kesadaran dan akses terhadap perawatan yang tepat.

Metode Asesmen

Dalam artikel ini, asesmen dilakukan dengan menggunakan Tes Intelegensi, Tes Kepribadian dan observasi saat subjek mengerjakan tes. Jenis tes intelegensi yang digunakan adalah Tes IST dan Tes 16 PF.

Tes IST

INFO lain :  Bangga

IST (Intelligenz Struktur Test) adalah tes psikologi yang dikembangkan oleh Rudolf Amthauer pada tahun 1953 di Jerman.  Digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang dan terdiri dari 9 subtes.  Tes ini dirancang untuk menilai berbagai aspek kecerdasan manusia, termasuk kemampuan spasial, pemahaman verbal, dan penalaran logis. IST menghasilkan skor mean dalam konteks inteligensi yang disebut dengan Intelligence Quotient (IQ) (Pertiwi et al., 2023).

Tes 16 PF

Tes 16 PF (Sixteen Personality Factors) adalah alat asesmen psikologi yang digunakan untuk mengukur 16 faktor kepribadian yang mendasar. Tes ini dikembangkan oleh Raymond Cattell dan rekannya pada tahun 1940-an dan 1950-an sebagai bagian dari pendekatan mereka dalam memahami struktur kepribadian manusia.

INFO lain :  Atasi Polisi Bunuh Diri. Pengamat Sarankan Pemegang Senpi Diperketat Psikotest
Observasi

Observasi yang digunakan adalah sistematis-partisipan dimana tester turut serta dalam kegiatan asesmen untuk mengamati perilaku yang muncul selama asesmen berlangsung.

Presentasi Kasus

Subjek adalah mahasiswa usia 21 tahun yang sedang menjalani perkuliahan semester 2 di Universitas Bina Insani dengan jurusan Sistem Informasi. Subjek telah menjalani asesmen psikologis dan hasil tes menunjukkan bahwa adanya gejala perasaan inferioritas pada diri subjek.

Sebelum tes berlangsung, subjek sempat di wawancara untuk melihat bagaimana keadaan psikologis subjek sebelum tes. Dalam wawancara tersebut, subjek mengatakan bahwa ia telat kuliah atau gap year selama 2 tahun. Subjek mengatakan bahwa ia gagal 2 kali dalam seleksi  SBMPTN. Sejak saat itu, subjek sering merasa bahwa dirinya tidak beruntung, kurang berharga, ragu serta merasa tidak mampu terhadap sesuatu dan sering merasa iri kepada teman-temannya yang sudah berhasil masuk ke Perguruan Tinggi. Subjek juga sering menyendiri karena selalu merasa tidak percaya diri terhadap pencapaian teman-temannya yang sulit untuk dikejar oleh subjek.