Membangun Soft Skills dan Hard Skills Melalui Pengenalan Potensi Diri dengan Alat Psikologi: Cara Mengelola Kecemasan pada Dewasa Awal

oleh
Membangun Soft Skills dan Hard Skills Melalui Pengenalan Potensi Diri dengan Alat Psikologi: Cara Mengelola Kecemasan pada Dewasa Awal
Membangun Soft Skills dan Hard Skills Melalui Pengenalan Potensi Diri dengan Alat Psikologi: Cara Mengelola Kecemasan pada Dewasa Awal (Foto: Dibuat dengan aplikasi Canva)

Taylor (1998) mengemukakan bahwa kecemasan adalah suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menyenangkan ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya). Menurut Nevid, Rathus dan Greene (2014) mengemukakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri-ciri seperti keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan dan perasaan aprehensif atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan merupakan keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan.

Jenis Alat Tes yang Digunakan

Dalam dunia psikologi tentunya ada banyak alat tes, dimana setiap alat tes mempunyai maksud dan tujuan untuk mepresentasikan hasilnya masing – masing. Jenisnya pun bervariatif seperti alat tes psikologi yang digunakan dalam psikologi antara lain adalah tes emosi, tes perilaku, dan tes kognitif. Tes emosi digunakan untuk mengukur tingkat emosi seseorang, seperti kecemasan, depresi, dan stres. Tes perilaku digunakan untuk mengukur perilaku seseorang, seperti perilaku sosial, perilaku agresif, dan perilaku pasif. Tes kognitif digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir seseorang, seperti keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir logis, dan keterampilan berpikir kreatif.

Dalam artikel ini, jenis alat tes yang digunakan adalah IST dan 16 PF. Intelligenz Struktur Test (IST) adalah alat tes inteligensi yang dikembangkan oleh Rudolf Amthaeur di Frankfrurt Main Jerman pada   tahun   1953   dan   telah   diadaptasi   di Indonesia. Tes IST (Intelligenz Struktur Test) terdiri dari sembilan subtes antara lain: Satzerganzung (SE) yaitu melengkapi kalimat, Wortauswahl (WA) yaitu melengkapi kata-kata, Analogien (AN) yaitu persamaan kata, Gemeinsamkeiten (GE) yaitu sifat yang dimiliki bersama, Rechhenaufgaben (RA) yaitu kemampuan berhitung, Zahlenreihen (SR) yaitu deret angka, Figurenauswahl (FA) yaitu memilih bentuk, Wurfelaufgaben (WU) yaitu latihan balok, dan Merkaufgaben (ME) yaitu latihan simbol

INFO lain :  Atasi Polisi Bunuh Diri. Pengamat Sarankan Pemegang Senpi Diperketat Psikotest
INFO lain :  KEPELOPORAN TUMBUHKAN KESADARAN

Sedangkan 16 PF menurut Raymond Cattel merupakan alat tes kepribadian yang disusun berdasarkan struktur kepribadian manusia.  Pengaplikasian tes 16 PF dapat digunakan dalam psikologi industry organisasi, psikologi klinis, psikologi konseling. Alat tes ini dikembangkan oleh Raymond Cattel terbit pertama kali pada tahun 1949. Pada tes 16 PF (Sixteen Personality Factor Questionnaire) terdiri atas 16 faktor kepribadian diantaranya Warmth (A), Reasoning (B), Emotional Stability (C), Dominance (E), Liveliness (F), Rule-Consciouness (G), Social Boldness (H), Sensitivity (I), Vigilance (L), Abstractedness (M), Privateness (N), Apprehension (O), Openness to Change (Q1), Self-Reliance (Q2), Perfectionism (Q3), dan Tension (Q4)

INFO lain :  Mewujudkan Ekonomi Pancasialis
Presentasi Kasus

Subjek yang telah melakukan pemeriksaan psikologi, disebutkan subjek merupakan seorang karyawan di suatu Perusahaan Swasta di Bekasi, subjek mengalami serangkaian gejala yang menunjukkan kecemasan. Dia sering merasa tegang dan gelisah, terutama sebelum presentasi di depan klien atau rapat besar. Subjek juga mengalami kesulitan tidur dan merasa cepat lelah, bahkan ketika bekerja dalam lingkungan yang tidak terlalu stres.. Hal ini menjadi beban yang cukup berat, terutama jika tidak ditangani dengan baik. Pada kasus ini, subjek merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri dan tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan baik. Subjek merasa bahwa tekanan untuk tampil baik di tempat kerja, bersaing dengan rekan-rekan yang berpengalaman, dan harapan untuk mencapai kesuksesan dalam karier membuatnya merasa cemas dan tidak aman.