Menjaga Rupiah

oleh

Kedua, pengeluaran pemerintah dalam APBN tidak terlalu berpengaruh karena baik penerimaan dan belanja lebih banyak berbasis rupiah. Namun, perlu dicermati belanja dalam mata uang asing, seperti perwakilan RI di luar negeri dan proyek yang menggunakan bahan baku atau material dari luar negeri. Pengendalian belanja pemerintah dengan prinsip skala prioritas dan disiplin pelaksanaan anggaran perlu dilakukan. Adanya selisih kurs yang terjadi akan membuat pemerintah harus mengeluarkan dana sedikit lebih besar untuk melunasi pokok dan bunga utang.

Sementara itu program jejaring sosial untuk kesejahteraan rakyat masih dapat dijalankan dalam kondisi aman. Bidang pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan Dana Desa untuk Cash For Work dapat direalisasikan sampai dengan Mei 2018 ini. Terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, tetap mengedepankan penyediaan BBM dan listrik di seluruh Indonesia dengan harga terjangkau. APBN tetap sehat dan shock yang berasal dari luar itu kemudian bisa diminimalkan pengaruhnya kepada masyarakat.

Dari sisi swasta walau masih dalam angka yang aman menurut BI, namun dengan adanya pelemahan rupiah ini dapat membebani kondisi finansial mereka sehingga dapat menghambat proses produksi. Oleh karena itu, apabila diperlukan pihak dunia usaha dapat melakukan reschedulingutang atau melakukan buyback loan.

Ketiga, ekspor-impor. Ketersediaan dolar meningkat ditopang dari ekspor namun belum signifikan, sementara permintaan dolar untuk impor menunjukkan peningkatan. Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018 memperlihatkan bahwa neraca perdagangan sempat mencatatkan surplus mencapai 1 miliar dolar AS. Surplus yang diterima dapat lebih besar apabila ekspor dapat dinaikkan lebih tinggi lagi terutama ke negara-negara mitra dagang utama seperti China, Australia, Malaysia, Singapura, dan AS.

INFO lain :  Bertarunglah, Menanglah, dan Jadikan Namamu Abadi
INFO lain :  KEPELOPORAN TUMBUHKAN KESADARAN

Di antara komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan selain minyak dan gas yakni kelapa sawit/CPO. Indonesia salah satu eksportir utama CPO di dunia dengan pangsa pasar hampir 50%. Ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah dari produk CPO sehingga mampu meningkatkan surplus perdagangan. Sementara itu, penurunan ekspor terbesar yaitu ke Tiongkok dipengaruhi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang menyebabkan ketidakpastian dalam melakukan impor dari negara lain. Penurunan terjadi pada ekspor minyak mentah dan hasil minyak, namun ekspor gas tetap mengalami kenaikan pada posisi April 2018.

INFO lain :  Eks Koruptor dan Ambiguitas KPU

Sedangkan impor menurut penggunaan barang didominasi golongan bahan baku sebesar 74,32 persen pada April 2018. Impor bahan baku tersebut dinilai positif karena menandakan pelaku industri mulai percaya diri untuk menambah produksi. Hal ini diharapkan agar peningkatan produksi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,