Rupiah dan dolar AS ibarat komoditas yang sangat dipengaruhi permintaan dan penawaran mata uang tersebut. Pertama, dari sisi investasi, kenaikan suku bunga AS mengakibatkan penurunan penawaran dolar AS disebabkan arus modal keluar dari pasar modal dan pasar uang dalam negeri sebagai motif logis spekulasi. Alternatif langkah yang ditempuh meng-counter dengan memberikan insentif lebih tinggi sebagai opportunity, yakni menaikkan suku bunga secara prudent.
Bank Indonesia (BI) telah menempuh langkah tersebut dengan menyesuaikan tingkat suku bunga acuan menjadi 4,5 persen. Hal ini menurut hemat saya merupakan langkah yang dapat diterima. Kebijakan ini dapat membantu menjaga iklim investasi agar modal asing bisa kembali masuk ke pasar keuangan domestik dan dapat membendung aksi jual investor. Modal asing yang masuk berbentuk valuta asing akan membantu memenuhi supply dolar AS.
BI bersama pemerintah perlu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap fluktuatif nilai tukar rupiah dan kebijakan The Fed. Kenaikan suku bunga acuan BI ini lebih bersifat jangka pendek, meskipun demikian tentu dapat berpengaruh kepada kenaikan suku bunga kredit perbankan. Perbankan diharapkan secara prudent dan selektif dalam meningkatkan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga kredit dapat berimbas menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. Peran BI dan pemerintah harus didukung oleh seluruh masyarakat dalam berinvestasi, menabung, dan bertransaksi ekonomi dengan menggunakan rupiah.
















