Jakarta – “Kepada seluruh atlet kebanggaan Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018, ingatlah sejarah hanya mengabadikan nama para juara. Maka bertarunglah, menanglah dan jadikan namamu abadi. Ayo, Indonesia. Indonesia Juara!”
Seringkali kita membesarkan hati dengan mengatakan bahwa kegagalan adalah kemenangan yang tertunda, kemenangan bukan segalanya atau kalimat sejenisnya. Ada juga yang bilang yang penting bermain dengan penuh semangat itu sudah lebih dari cukup daripada sekedar menjadi pemenang dan juara.
56 tahun lamanya hingga akhirnya kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games akhirnya datang kembali. Kita patut berbangga karena kembali dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games. Kita pernah menjadi tuan rumah pertama kali pada 1962, saat usia Republik kita masih muda, 17 tahun. Pemerintah kita saat itu punya mimpi besar, agar Indonesia dilihat oleh dunia. Asian Games adalah pesta olahraga Asia yang dirintis ketika kekuatan ideologi imperialisme barat mulai runtuh dan bangsa-bangsa di Asia mulai mendapat kemerdekaannya. Artinya, Asian Games menjadi momentum bagi lahirnya nasionalisme dan solidaritas di antara bangsa-bangsa Asia. Saat usia Republik kita masih belia itu pula catatan prestasi olahraga terbaik kita torehkan, dengan meraih posisi kedua diantara negara-negara di Asia. Asian Games menjadi momentum membangkitkan semangat dan mentalitas sebagai bangsa pemenang dan juara.
Saya sangat yakin, di tengah dahaga panjang kita akan prestasi dunia olahraga saat ini, kita ingin bangsa kita bisa merasakan kembali semangat dan mentalitas sebagai pemenang dan juara dari kemenangan yang lahir dari setiap arena pertandingan. Indonesia butuh pencapaian baru, sebuah tonggak, suatu milestone, yang dibangun oleh tangan dan kaki generasi terbaru. Karena kita tak bisa lagi terus menerus mengingat-ingat kemenangan dan rasa lama yang dulu pernah ada, saat negara tetangga kita terus melaju dan memancangkan target-target prestasi olahraga dan aksi yang sudah jauh lebih baik daripada kita.
















