MENGAPA LAGU SILIWANGI MENGGEMA SAAT SESEORANG MENJELANG BERPULANG?
Sebuah Catatan Psikologis dan Budaya
Oleh: Ricka Comara Dewi,M.Psi.,Psikolog & Dr.Tugimin Supriyadi, Psi.
Pernahkah kita menyaksikan momen yang menyentuh: di sisi orang yang sedang berjuang melepaskan napas terakhir, di tengah keheningan dan air mata, tiba-tiba terdengar lantunan nada khas—lagu Siliwangi. Bagi sebagian orang hal ini mungkin terasa biasa, namun jika ditelusuri maknanya, ada alasan mendalam baik dari sisi kejiwaan maupun kearifan budaya yang hidup di tengah masyarakat kita.
Dari sudut pandang psikologi dan kedokteran jiwa, saat seseorang mendekati akhir hayatnya, kemampuan berpikir logis dan memahami kata-kata yang rumit memang mulai menurun. Namun, ingatan yang tertanam kuat di dalam hati—terkait identitas, asal-usul, dan nilai-nilai yang dipegang seumur hidup—justru tetap bertahan paling lama, bahkan menjadi hal yang paling mudah disentuh. Hal ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Subandi, Psikolog (Fakultas Psikologi UGM), pakar psikologi budaya dan kesehatan jiwa, yang menegaskan bahwa pengalaman emosional yang berakar pada budaya dan keyakinan bertahan paling lama dalam ingatan manusia, dan menjadi sumber kekuatan serta ketenangan di saat-saat paling rentan.
Musik dan nada yang sudah dikenal sejak lama, terlebih yang sarat makna kebersamaan dan akar budaya, dapat menembus ke dalam kesadaran meskipun kondisi fisik sudah sangat lemah. Berbagai penelitian di bidang perawatan paliatif membuktikan: musik yang bermakna bagi pasien mampu menurunkan kecemasan, meredakan ketegangan, dan memberi rasa aman menjelang akhir hayat—termasuk kajian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta maupun tinjauan ilmiah internasional tentang terapi musik di masa akhir kehidupan.
Lagu Siliwangi—termasuk Wangsit Siliwangi—bukan sekadar irama biasa. Kajian budaya menunjukkan: nama dan sosok Prabu Siliwangi telah bertransformasi menjadi lambang identitas, tanah kelahiran, semangat leluhur, sekaligus perlambang keteguhan dan perlindungan bagi masyarakat Pasundan. Makna kata “Siliwangi” sendiri mengandung muatan keagungan, kesucian, dan ketabahan yang meresap ke dalam batin masyarakat sejak turun-temurun. Sementara “Wangsit” berarti pesan luhur warisan leluhur: ajaran tentang kesetiaan, keadilan, dan persaudaraan yang menjadi jati diri budaya setempat.
Ketika dilantunkan di momen paling akhir, lagu ini bekerja seperti jangkar yang menenangkan: mengubah perasaan cemas, takut, atau terasing menjelang kematian menjadi rasa aman, diakui, dan “diantar pulang” ke tempat yang dikenalnya sejak lahir. Secara budaya, menyanyikannya adalah pesan halus namun dalam: “Engkau kembali ke akarmu, ke tanah yang melahirkanmu, ke semangat yang tidak pernah hilang.”
Pada akhirnya, lantunan itu adalah jembatan—menghubungkan yang lemah dengan yang kuat, yang pergi dengan yang ditinggalkan, dan yang terbatas dengan sesuatu yang langgeng. Di balik nada yang bergema, ada doa tanpa kata: semoga perjalanan pulang itu tenang, diterima, dan dilindungi—sebagaimana kita semua ingin diantar pulang kelak. (*)
















