π—žπ—œπ—§π—” π—§π—œπ——π—”π—ž 𝗕𝗒𝗗𝗒𝗛, 𝗛𝗔𝗑𝗬𝗔 π—Ÿπ—˜π—§π—œπ—› Taufiq Fredrik Pasiak (Ilmuwan Otak, Dekan FK UPN Veteran Jakarta)

oleh

Kayaknya, kita rakyat Indonesia sedang dibikin lelah dan kelelahan. Banyak orang bilang rakyat diam karena tidak mengerti. Padahal, mereka justru sangat tahu, tapi tak lagi tahu harus berbuat apa. Rakyat Indonesia tidak sedang dungu. Mereka hanya sedang lelah. Lelah berharap, lelah bertanya, lelah bersuara. Lelah yang bukan tanpa sebab, tapi hasil dari pengondisian panjangβ€”diulang terus-menerus oleh sistem yang tahu betul bagaimana otak manusia bekerja dalam menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan ketidakpedulian.

Kalau terkesan tunduk, maka tunduk itu bukan lagi tanda setuju. Ia menjadi bentuk perlindungan paling dasar agar otak kita tetap bisa bertahan. Inilah wajah demokrasi hari ini: rakyat diam, bukan karena takut. Tapi karena ingin tetap waras. Sing waras, ngalah, kata banyak orang.

Saya kuatir petitih Jawa ini menjadi bagian dari pengondisian kelelahan rakyat Indonesia.

INFO lain :  Mengenal Intervensi Sosial dan Tahapannya (Study kasus Agus Salim korban penyiraman air keras)

Dalam studi klasik Psikolog Martin Seligman tentang learned helplessness (1967) dijelaskan bagaimana makhluk hidupβ€”termasuk manusiaβ€”bisa kehilangan dorongan untuk melawan jika terlalu sering dihadapkan pada kegagalan.

Kita belajar untuk tidak berdaya. Anjing yang disetrum dalam kotak tertutup dan tak bisa kabur, pada akhirnya berhenti melawan, bahkan ketika pintu kotaknya dibuka. Ia tetap diam, tidak bergerak. Kenapa? Karena otaknya telah belajar bahwa upaya melawan hanya akan membawa lebih banyak rasa sakit.

INFO lain :  Meningkatkan Emosi dan Stres, Iklan yang Menutupi Konten Bisa Digugat

Otak manusia bekerja serupa. Ketika kritik diabaikan, suara diputarbalikkan, dan kebenaran dikalahkan oleh algoritma sosial media maka prefrontal cortex sebagai pusat nalar perlahan dikalahkan oleh sistem limbik yang cuma ingin satu hal: selamat dan aman.

Hari-hari ini, kita hidup dalam zaman di mana ketidakpastian bukan lagi insiden yang harus diantisipasi, tapi sistem yang tampaknya sengaja dirancang.

Politik berubah jadi panggung opera sabun, ekonomi lepas dari logika dapur rakyat, dan media sosial menciptakan badai emosional tanpa hentiβ€”antara marah, takut, dan bingung dalam satu tarikan napas.

INFO lain :  Bimbingan Kelompok Teknik Sosio Drama untuk Mencegah Bullying

Dalam dunia semacam ini, harapan bukan lagi harapan, melainkan jebakan. Sejumlah kajian dalam neurosains menunjukkan bahwa otak manusia memiliki bias optimismeβ€”kita secara naluriah ingin percaya bahwa besok akan lebih baik. Tapi jika ekspektasi itu terus dilukai, jika janji tinggal janji, maka otak akan memilih jalan perlindungan: mematikan emosi, mengecilkan keinginan, dan akhirnya menyerah secara senyap. Inilah titik ketika rakyat tidak lagi peduli, bukan karena bodoh, tapi karena terlalu sering dikhianati. Tunduk, diam, apatis bukan tanda ketidakpedulian, tapi alarm keras bahwa sistem sosial sedang merusak daya hidup rakyatnya.