Meninjau Pengalaman Negatif Masa Lalu Terhadap Kecemasan Melalui alat tes psikologi

oleh
Meninjau Pengalaman Negatif Masa Lalu Terhadap Kecemasan Melalui alat tes psikologi
Meninjau Pengalaman Negatif Masa Lalu Terhadap Kecemasan Melalui alat tes psikologi (Foto: Dibuat dengan Canva)

Meninjau Pengalaman Negatif Masa Lalu Terhadap Kecemasan Melalui alat tes psikologi

Pande Ketut Gita Kusuma Maharani1, Wahyu Aulizalsini Alurmei2

Email : pandegita27@gmail.com & wahyu.aulia@dsn.ubharajaya.ac.id

Kecemasan atau cemas merupakan salah satu emosi negatif yang ada pada diri individu dalam kehidupan sehari-hari. Goleman menjelaskan, emosi dasar manusia pada dasarnya meliputi rasa takut, marah, sedih, dan bahagia. Susanto (2012) menambahkan rasa malu, bersalah, dan takut sebagai emosi dasar manusia. Emosi ini penting karena memberikan pengaruh yang kuat, tidak hanya pada perilaku saat ini tetapi juga pada perilaku di masa depan, terutama emosi negatif. Kecemasan sendiri menurut (Sarason et al., 1990) didefinisikan sebagai keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan rasa takut. Kecemasan juga diartikan oleh Jeffrey S. Nevid, dkk (2005: 163) kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang ditandai dengan keterangsangan fisiologis, ketegangan yang tidak menyenangkan, dan perasaan cemas akan terjadi sesuatu yang buruk.

Ghufron & Risnawitaq (2012) terdapat beberapa hal yang dapat menimbulkan kecemasan pada individu, ini dapat berupa pengalaman negatif di masa lalu atau pikiran yang tidak rasional. Pengalaman negatif masa lalu seperti kegagalan dan penolakan. Sedangkan pikiran tidak rasional dapat berupa pikiran-pikiran menakutkan terhadap sesuatu yang akan terjadi. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan dan kayakinan tidak rasional pada individu mengenai apa yang akan terjadi di masa depan yang belum tentu memalukan. Pada individu yang memasuki usia dewasa awal yaitu 18 – 40 tahun kecemasan berorientasi pada hubungan dan pekerjaan. Sejalan dengan pendapat Nabila et al., (2022) kecemasan pada individu yang memasuki usia dewasa awal seringkali di identifikasikan dengan hubungan dan pekerjaan. Hal ini karena perkembangan pada masa dewasa awal dengan hubungan dan pencarian jati diri memiliki keterikatan yang erat. Hubungan dengan lingkungan berpengaruh karena adanya pengalaman tidak menyenangkan yang dialami oleh rekan kerja, kekasih, teman atau keluarga dapat menimbulkan kecemasan (Savitri, 2003). Dalam hal ini kecemasan dapat disebabkan oleh adanya pengalaman negatif di masa lalu yang dilakukan oleh orang terdekat seperti kasus pada subjek X yang ditinjau melalui alat tes psikologi 16pf dan IST.

Pada wawancara yang telah dilakukan dengan subjek X ditemukan bahwa subjek dalam dua bulan terakhir sering merasa cemas sehingga mengalami sulit tidur dan mengelola emosi. Kecemasan yang dirasakan bersumber dari pengalaman negatif yang dirasakan di masa lalu. Subjek menjelaskan saat masih berusia anak-anak (SD), subjek tidak sengaja melihat ayahnya sedang berbalas pesan singkat tidak wajar dengan wanita lain. Selain itu, subjek sering melihat perlakuan ayah kepada ibunya tidak baik secara verbal. Ketika menjalin hubungan dengan lawan jenis subjek, juga memergoki kekasihnya melakukan hal yang sama dengan yang ayahnya lakukan yaitu berbalas pesan tidak wajar dengan wanita lain. Pengalaman – pengalaman tersebut membuat subjek merasa cemas akan terulang kembali dengan pasangan yang sekarang. Dimana saat ini subjek akan segera menuju jenjang pernikahan. Untuk melihat kondisi subjek secara lebih jelas maka dilakukan asesmen menggunakan 16 PF dan IST dengan tujuan mengukur kepribadian pada taraf normal untuk memberikan gambaran yang mendalam pada diri individu dan mengetahui kapasitas intelektual untuk memperkirakan pemahaman individu terkait kondisi yang dialaminya.