Faktor internal
Pada remaja ia sedang berada pada fase krisis identitas dan lemahnya kontrol diri. Perubahan biologis dan sosiologis pada remaja membuat ia merasa bingung akan identitasnya, perkembangan biologisnya sudah menunjukkan kedewasaan, namun sosiologisnya masih berada pada pemikiran anak-anak sehingga hal ini memungkinkan terjadinya bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi hidupnya. Kedua, tercapainya identitas peran. Pada kasus kenakalan remaja yang terjadi, hal itu mengindikasi bahwa kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal pada tahap integrasi yang kedua.
Faktor eksternal
Pada remaja di masa lalunya sampai pada tahap ia melakukan tindakan kenakalan disebabkan karena ia mendambakan perhatian dan kasih sayang orang tua, minimnya pemahaman tentang keagamaan dan moralitas, dan pengaruh dari lingkungan pergaulan dan tempat pendidikan.
Keluarga, merupakan unit sosial terkecil dan madrasah pertama bagi anak. Keadaan keluarga dapat menjadi penyebab munculnya delinkuensi pada remaja, seperti keluarga broken-home, hilangnya figur orang tua, keluarga yang diliputi konflik yang terus menerus, sampai kemiskinan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi keluarga untuk memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak serta membimbingnya pada proses krisis identitas yang sedang dialami remaja.
Pemahaman agama dan moralitas, merupakan salah satu faktor terpenting sebab keduanya akan menjadi ‘batas’ sampai mana remaja boleh melakukan eksplorasi terhadap hal yang membuatnya penasaran. Pembinaan agama dan moral dimulai dari figur utama sang anak, yakni keluarga. Keluarga harus mampu mengarahkan anak pada perbuatan positif karena apa yang didapatkan anak dari keluarga adalah apa yang akan dibawanya kelingkungan masyarakat. Oleh sebab itu, keluarga bertanggung jawab untuk menyelamatkan anak dari bahaya kenakalan remaja serta menyiapkan diri untuk masa depannya.
Lingkungan pergaulan dan tempat pendidikan (dalam hal ini lembaga pendidikan/sekolah), merupakan tempat kedua yang paling banyak dihabiskan waktunya bagi remaja. Keduanya juga merupakan faktor yang paling mempengaruhi karakteristik remaja. Seringkali kita menemukan fakta bahwa remaja yang melakukan kenakalan semata-mata bertujuan untuk menunjukkan eksistensinya dalam lingkungan pergaulannya, ‘agar dianggap keren, tidak ketinggalan jaman, berprestasi dan sebagainya.’ Oleh sebab itu, keluarga dan guru haruslah bekerjasama untuk memantau bagaimana lingkungan pergaulan anak dan bisa dengan tegas dan jelas memberikan arahan dan nasehat bila anak mulai melakukan tindakan menyimpang.
















