Aktivitas pengerukan pasir yang dilakukan PT Surya Karya Setiabudi (SKS) dipersoalkan warga karena diduga tidak berizin dan berpotensi merusak sabo. Bahkan Badan Kerjasama Internasional Jepang atau Japan International Cooperation Agency (JICA) turut mempersoalkannya. JICA tak ingin duit ratusan miliar yang digelontorkan untuk pembangunan sabo menjadi sia-sia. Namun perusahaan ini seolah tidak tersentuh, mereka tetap menambang pasir bahkan memperluas jangkauan penambangan.Tempo menelusuri dugaan akal-akal izin tambang mereka.
Pengerukan pasir besar-besaran oleh PT SKS membuat resah warga desa sekitar lokasi tambang. Maklum, nasib sebagian besar warga tergantung pada kekokohan sabo. Bila Merapi meletus, materi berupa pasir hingga batu sebesar kerbau bakal meluncur melalui sungai-sungai aliran lahar, termasuk Sungai Bebeng. Pengambilan pasir secara besar-besaran di sekitar area sabo berpotensi menyebabkan kekokohan sabo berkurang. Bila bangunan sabo tidak cukup kokoh dan kemudian roboh, maka lahar akan menghantam wilayah desa di sekitar aliran sungai.
“Para penambang itu seolah tak peduli dan terus beroperasi,” ujar Mukri, tokoh warga Dusun Jrakah, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jumat pekan lalu.
Indra Kurniawan, warga Desa Nglumut juga khawatir dengan aktivitas PT.SKS. “Kalau sabo dan tanggul jebol, kami yang berada di hilir sangat terancam,” kata Indra. Di seluruh kawasan Merapi terdapat sekitar 300 sabo, sebanyak 12 sabo berada di Sungai Bebeng.
Warga semakin was-was ketika dua pekan lalu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengabarkan bahwa telah muncul kubah lava baru di puncak Gunung Merapi. Kubah lava adalah salah satu penanda bahwa Merapi akan kembali erupsi. Kubah lava baru ini bahkan lebih tinggi lima meter dibanding kubah yang terbentuk saat erupsi 2010 silam. Ketika itu Merapi memuntahkan 140 juta meter kubik materi dari perut bumi. Akibatnya desa-desa di sekitarnya luluh lantak, ratusan orang meninggal, ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Mukri, Indra, serta warga desa lainnya pernah melakukan penutupan akses jalan menuju kawasan tambang untuk menghalangi PT SKS mengeruk pasir. Namun mereka tak berdaya menghadapi orang-orang sewaan perusahaan. Bahkan Mukri sempat beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan. Ancaman itu dikirim ke nomor pribadi Mukri. “Jebule kowe to Mbah seng arep nyengsarake pejabat akeh. Rambutmu yo wes putih rak suwe yo mati. Opo tak sengkake nggo pedang sisan Mbah? Setan tenan kowe yo. (Ternyata kamu ya Mbah yang akan menyengsarakan banyak pejabat. Rambutmu sudah memutih dan tidak lama lagi bakal mati. Apa aku percepat menggunakan pedang, Mbah? Setan kamu),” isi pesan pendek yang masuk ke telepon selular Mukri.
















