Lembu Ampal diperintahkan Panji Tohjaya membunuh Mahisa Campaka dan Pranaraja. Jika gagal, ia akan dibunuh. Alih-alih menjalankan tugas, Lembu Ampal berpihak kepada keduanya. Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, lantas lari ke Sinelir. Di Sinelir, ditusuknya pula seseorang dan lari ke Rajasa. Kedua kelompok pun tawur hingga semua dibunuh oleh Tohjaya. Maka, kedua desa bersatu untuk menyerang keraton di bawah perlindungan Mahisa Campaka dan Pranaraja sampai Tohjaya terbunuh.
Gajah Mada mengetahui bahwa Raja Jayanegara mengganggu istri Tanca, maka ia memberi tahu Tanca. Ketika bertugas memecah bisul raja, Tanca meminta raja melepas jimat agar bisul bisa pecah. Raja ditusuk Tanca dan tewas di tempat tidur. Namun Tanca pun tewas ditusuk Gajah Mada (Kriswanto, 2009: 49-53, 61-7, 99).
Kekerasan? Sudah tentu. Kejahatan? Meski hanya Ken Angrok yang merupakan antagonis dalam drama tanpa protagonis, Lembu Ampal dan Gajah Mada adalah protagonis yang melakukan kejahatan politik. Disebutkan dalam Il Principe (Sang Pangeran) bahwa Machiavelli sekadar memberikan seluk-beluk mekanis pemerintahan, melepaskan diri dari pertimbangan moral, dan hanya berharap untuk menyatakan cara, tempat kekuasaan politik dapat ditetapkan dan dipertahankan.
Faktanya toh tetap. Pria kelahiran Florence itu mempertimbangkan bahwa penguasa (maupun yang ingin berkuasa-SGA) berhak menggunakan cara-cara tak bermoral dalam konsolidasi dan penjagaan kekuasaan (Coplestone, op.cit., h. 315-6). Jika di Tanah Jawa ada Pararaton yang menjadi refleksi politis kekuasaan Singasari dan Majapahit, bukankah yang dipikirkan Machiavelli terbukti mungkin dilakukan di suatu waktu dan ruang lain, termasuk hari ini?
Sumber Tempo.co
https://kolom.tempo.co/read/1112920/realisme-kejahatan-politik
















