Sang Negarawan

oleh

Oleh ARIF SUSANTO

Keutamaan sebagai kebajikan tersebut menjadi tuntutan seorang negarawan.

Terimpit bertumpuk masalah sejak lama, Indonesia mendambakan sosok negarawan muncul dalam setiap Pemilu, termasuk Pemilu 2019. Sebagai sosok yang bijak dan adil, seorang negarawan bersimpati pada situasi yang dihadapi rakyat, menghadirkan solusi berimbang atas masalah bersama, dan kekuasaannya kukuh karena lekat dengan integritas.

Melampaui Cinta Diri

“Setiap orang awalnya dan utamanya, tutur Adam Smith, memerhatikan dirinya sendiri”. Smith benar bahwa rasa cinta diri merupakan bagian lekat keberadaan manusia. Kita peduli pada keberlangsungan kepentingan kita; bahkan kadang kala kita menghendakinya sebagai yang utama. Kita peduli pada posisi kita di hadapan orang lain, sehingga kehormatan tidak mungkin bersandingkan kehinaan.

INFO lain :  Setelah Asian Games Usai

Demikianlah, kita pada umumnya mengukur kepantasan dengan bertolak dari kepentingan diri. Sesuatu itu baik jika selaras dengan kepentingan diri, sedangkan ia buruk lantaran bertentangan dengan kepentingan diri. Lebih daripada kepantasan adalah suatu keunggulan perilaku; suatu kebajikan yang melampaui sekadar kebiasaan-kebiasaan baik. Itulah keutamaan yang patut untuk dimuliakan.

Keutamaan sebagai kebajikan tersebut menjadi tuntutan seorang negarawan. Tidaklah cukup bagi seorang negarawan untuk peduli semata pada keberadaan dan kemujurannya, atau sekadar pada kedudukan dan nama baiknya. Dalam kehidupan bernegara, keengganan untuk memperluas perspektif meliputi kehendak-kehendak umum dapat menumpulkan kepekaan terhadap kepublikan.

INFO lain :  Saat Polri Berubah

Beragama, Berbudaya dan Bernegara

Tanpa keutamaan, kekuasaan politik niscaya gagal menghasilkan kebaikan publik. Perhatikan bahwa rentetan masalah yang mendera Indonesia berakar antara lain dari rasa cinta diri berlebihan para penguasa. Soeharto, misalnya, membangun jalan menuju krisis nasional lewat perilaku culas yang menguntungkan diri dan kelompok sendiri (periksa Robison, 1986; juga Robison dan Hadiz, 2004).

Menempatkan diri seturut situasi umum yang dihadapi rakyat, kebijakan seorang negarawan memberi solusi berimbang terhadap masalah-masalah bersama. Dengan sifat bijak dan adil, kata Smith (2004:253), seorang negarawan kiranya mampu bertindak secara cakap dan penuh perhitungan menyangkut kehidupan orang banyak dalam berbagai keadaan.

INFO lain :  Catatan Suram Pasangan Kandidat

Kita dapat belajar dari para pendiri negara yang bahkan merisikokan kehidupan mereka demi kemerdekaan Indonesia. Dengan etos kepemimpinan, yang mereka upayakan bukanlah gemerlap kekuasaan; dengan etos kepahlawanan, yang mereka perjuangkan bukanlah kemasyhuran. Melampaui semata prinsip cinta diri, keluhuran jiwa merupakan keutamaan seorang negarawan.