URGENSI PEMAAFAN BERBIAYA TINGGI
Opini oleh: Tugimin Supriyadi
Dosen Fakultas psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Bulan suci Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk meningkatkan keimanan, melatih kesabaran, dan menguatkan nilai-nilai spiritual. Namun, kenyataan yang terjadi di masyarakat Indonesia belakangan ini menunjukkan bahwa esensi tersebut sering tergeser oleh budaya konsumtif yang semakin meluas. Bahkan, momen saling memaafkan pada Idul Fitri, yang seharusnya bersifat murni dan tak terkait dengan materi, kini juga terkesan “berbiaya tinggi” akibat berbagai beban finansial yang menyertainya.
Konsumerisme yang Menguasai Ramadhan
Ramadhan kini kerap diidentikkan dengan lonjakan belanja. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia meningkat sekitar 10-20 persen selama Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya, terutama untuk kebutuhan makanan, minuman, dan pakaian. Tradisi berbuka puasa bersama yang awalnya memiliki nilai kebersamaan, kini sering berubah menjadi ajang untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang beragam bahkan mewah. Tak hanya itu, tren “perang takjil” yang viral di media sosial juga mencerminkan bagaimana budaya konsumtif telah meresapi momen suci ini. Selain itu, iklan-iklan produk yang menyematkan nuansa Ramadhan semakin banyak muncul, menggoda masyarakat untuk melakukan pembelian yang tidak selalu diperlukan. Fenomena ini sejalan dengan teori Max Weber tentang pengaruh kapitalisme terhadap etika agama, di mana nilai-nilai spiritual tergerus oleh tujuan ekonomi.
Biaya Tinggi yang Mengiringi Idul Fitri
Akhir Ramadhan yang ditandai dengan Idul Fitri juga tidak luput dari beban finansial yang besar. Tradisi mudik pulang kampung menjadi salah satu faktor utama peningkatan biaya. Lonjakan permintaan transportasi menyebabkan harga tiket pesawat, kereta api, dan bus meningkat secara signifikan, menjadi beban bagi banyak keluarga, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Selain biaya transportasi, masih ada berbagai kebutuhan pendukung lainnya seperti oleh-oleh, pakaian baru, hidangan istimewa, serta uang untuk memberikan THR dan santunan. Jika tidak dikelola dengan baik, pengeluaran ini dapat menyebabkan kesulitan keuangan pasca Idul Fitri, bahkan membuat sebagian orang terpaksa berutang.
Padahal, makna sejati Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian dan mempererat hubungan antar sesama melalui saling memaafkan. Dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum: 30 disebutkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan fitrah yang suci, dan Idul Fitri seharusnya menjadi momen untuk kembali kepada fitrah tersebut. Saling memaafkan juga merupakan salah satu tanda orang yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali ‘Imran: 134 yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Namun, saat ini makna tersebut sering mengalami “abrasi” dan terjebak dalam ritual tahunan yang lebih fokus pada aspek materi daripada spiritualitas.
















