Opini Dr. Tugimin Supriyadi,Psi. : MENJUAL WAKTU

oleh

Opini Dr. Tugimin Supriyadi,Psi. MENJUAL WAKTU


MENJUAL WAKTU

Di tengah pusaran ekonomi digital yang tak henti, waktu telah berevolusi menjadi komoditas paling berharga—lebih mahal daripada emas atau saham. Latar belakangnya jelas: masyarakat modern didominasi oleh individu super sibuk, di mana setiap detik dihitung sebagai aset strategis. Seorang CEO startup di Jakarta, misalnya, menghabiskan 80 jam seminggu untuk meeting, pitching investor, dan scaling bisnis. Agenda mereka penuh: pagi hari strategi dengan tim, siang negosiasi dengan vendor, malam analisis data. Bagi mereka, undangan “mari bertemu” bukan sekadar silaturahmi, melainkan tawaran yang harus dievaluasi. “Berapa nilai waktu saya per jam?” tanya mereka. Fenomena ini didukung data dari survei McKinsey Global Institute (2023), yang menyebut 45% pekerja profesional merasa waktu mereka “terlalu mahal untuk dibuang sia-sia”, sehingga segala interaksi dikonversi menjadi transaksi berbayar .

INFO lain :  Opini : Ketika Masa Tua Tiba

Tak kalah ironis, di ujung spektrum lain berdiri mereka yang kekurangan pekerjaan dan finansial—freelancer atau pekerja informal yang bergantung pada gig economy. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka mencapai 5,32% pada 2025, dengan jutaan bergantung pada platform seperti Upwork atau Projects.co.id . Setiap notifikasi WhatsApp dari kenalan lama langsung memicu alarm peluang: “Apakah ini leads baru?” Kopi di kafe pinggir jalan berubah jadi pitch deck dadakan—”Saya bisa handle konten marketing Anda, tarif Rp500 ribu per artikel.” Contoh nyata: seorang desainer grafis di Bandung yang saya kenal, kehilangan pekerjaan tetap pasca-pandemi, kini mengonversi setiap reuni teman menjadi portofolio sales. Seperti dijelaskan dalam buku “Gigged” karya Sarah Kessler (2018), pekerja gig menjual waktu mereka karena kelangkaan—setiap jam idle berarti tagihan listrik telat .

INFO lain :  Bangga

Paradoks ini menggambarkan dualitas zaman: orang super sibuk menjual waktu demi efisiensi, sementara yang kekurangan menjualnya demi kelangsungan hidup. Di satu sisi, eksekutif startup seperti founder Gojek Nadiem Makarim (sebelum jadi Menteri) dikenal menolak meeting tak esensial, fokus pada high-value interactions—sebuah strategi yang kini jadi blueprint bagi ribuan entrepreneur . Di sisi lain, survei LinkedIn Workforce Report (2025) ungkap 62% pekerja lepas di Asia Tenggara melihat jaringan sosial sebagai “toko bisnis berjalan”, di mana obrolan ringan langsung jadi proposal . Akibatnya, hubungan manusiawi tergerus; pertemuan akrab diganti kalkulasi untung-rugi.

Apa solusinya? Kita perlu sadar batas: alokasikan “waktu gratis” untuk koneksi autentik, bukan semata profit. Perusahaan seperti Google menerapkan “20% time” untuk proyek pribadi, membuktikan keseimbangan tingkatkan inovasi . Di tingkat individu, terapkan aturan sederhana: satu pertemuan seminggu tanpa agenda bisnis. Jika dibiarkan, menjual waktu akan ciptakan masyarakat transaksional—kaya tapi kesepian. Saatnya hargai waktu bukan hanya sebagai barang dagang, tapi jembatan kemanusiaan.(*)

INFO lain :  BPS, dan (Kemiskinan) Regulasi

Referensi
McKinsey Global Institute. (2023). The Future of Work After COVID-19mckinsey.com
Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2025bps.go.id
Kessler, S. (2018). Gigged: The End of the Job and the Future of Work. St. Martin’s Press.
Makarim, N. (2020). Wawancara di Forbes Asiaforbes.com
LinkedIn. (2025). Workforce Report Asia Tenggaralinkedin.com
Google. (2024). Innovation at Google: 20% Time Policygoogle.com