Opini Dr. Tugimin Supriyadi,Psi.: KELEKATAN KELUARGA Antara Bertambahnya Anggota dan Pudarnya Kebersamaan

oleh

Kehadiran cucu pun memiliki dinamikanya sendiri. Secara psikologis, kehadiran cucu sering kali menjadi momen bagi kakek-nenek untuk memenuhi kebutuhan generatif (keinginan untuk mewariskan nilai dan meninggalkan jejak). Namun, ini juga bisa menjadi sumber konflik. Perbedaan pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek, atau perasaan bahwa perhatian kini sepenuhnya tertuju pada cucu sehingga hubungan antar-dewasa terabaikan, turut memperparah jarak yang ada. Terkadang, keluarga besar juga terjebak dalam pola ketergantungan atau justru sebaliknya, saling menjaga jarak demi menghindari konflik yang tak kunjung usai.

INFO lain :  Setelah Asian Games Usai

Penting untuk disadari bahwa menantu dan cucu bukanlah “orang luar” atau penyebab utama pudarnya kebersamaan. Mereka adalah variabel perubahan, bukan penyebab kerusakan. Masalah utamanya sering kali terletak pada ketidakmampuan sistem keluarga untuk beradaptasi. Keluarga yang dulu beroperasi dengan aturan “kita semua satu” harus berubah menjadi aturan yang lebih kompleks: “kita adalah satu, namun masing-masing juga memiliki unit yang harus dijaga”.

Lalu, bagaimana solusinya? Jawabannya kembali pada komunikasi dan batasan yang sehat. Berdasarkan prinsip psikologi keluarga, kita perlu membangun batasan yang jelas namun tetap terbuka. Batasan di sini artinya menghargai bahwa keluarga baru anak kita memiliki hak untuk menentukan cara hidupnya, namun tetap menjembataninya agar tidak terputang dari akarnya. Orang tua perlu berperan sebagai jangkar yang memberi ruang tumbuh, bukan dinding yang membatasi atau menuntut. Sementara itu, anak yang sudah menikah harus pandai menjadi jembatan, bukan tembok pemisah antara orang tua dan pasangannya.

INFO lain :  HARUSKAH KITA JABUR AJA DULU ?  Oleh : Pambudi Sunarsihanto

Kehadiran anggota baru seharusnya menjadi warna yang memperkaya palet kehidupan keluarga, bukan cat yang menutupi warna asli yang sudah indah. Menantu adalah anak tambahan, cucu adalah kebahagiaan yang berlipat ganda. Jika kita mampu melihat perubahan ini sebagai proses alami yang perlu penyesuaian, bukan ancaman, maka kelekatan itu tidak akan pudar, melainkan hanya berubah bentuk menjadi kedewasaan dalam berkeluarga. Mari kita jaga agar tangan yang saling menggenggam itu tidak terlepas, walau kini ada tangan-tangan baru yang turut menggenggam di dalamnya.(*)