Sapa Sira Sapa Ingsun, Filosofi Jawa yang Menggambarkan Kesewenang-Wenangan Seorang Pemimpin
Oleh : Dr. Tugimin Supriyadi, S.Psi., MM.,Psikolog
Filosofi Jawa “Sapa Sira Sapa Ingsun” adalah sebuah pepatah yang menggambarkan kesewenang-wenangan seorang pemimpin karena memiliki jabatan. Pepatah ini memiliki makna yang dalam dan kompleks, dan dapat digunakan untuk memahami dinamika kekuasaan dan kepemimpinan dalam masyarakat Jawa.
Dalam konteks “Psikologi Modern” khususnya Psikologi Inudustri dan Organisasi, filosofi Sapa Sira-Sapa Ingsun, menggambarkan kesewenang-wenangan seorang yang mempunyai jabatan dan kedudukan namun semena mena terhadap bawahannya (sebut individu/karyawan). Dalam konteks ini seorang pemimpin dianggap abai akan tugasnya membina dan mengembangkan karyawan agar lebih berpotensi untuk Perusahaan atau organisasi.
Lebih parahnya lagi, pemimpin semacam ini memberikan kata-kata menyengat ke bawahannya dengan mengatakan “Jangan membakar rumah kamu sendiri!”. Nah, seorang yang pemimpin yang “gila hormat” ingin sekali merasa dihormati dan dihargai, namun dirinya tidak menghormati bawahannya. Pemimpin tersebut mengatakan “jangan membakar rumah kamu sendiri”, tetapi dibalik itu dirinya mencari kesalahan bawahannya untuk bekal mencari muka ke pemimpin tertinggi.
Makna Filosofis
“Sapa Sira Sapa Ingsun” secara harfiah berarti “Siapa kamu, siapa aku”. Namun, dalam konteks filosofis, pepatah ini memiliki makna yang lebih dalam. Pepatah ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan jabatan dapat menjadi sewenang-wenang dan mengabaikan hak-hak dan kebutuhan orang lain.
Dalam masyarakat Jawa, kekuasaan dan jabatan sering kali dianggap sebagai sumber kekuasaan dan otoritas. Namun, ketika seorang pemimpin memiliki kekuasaan yang terlalu besar, mereka dapat menjadi sewenang-wenang dan mengabaikan hak-hak dan kebutuhan orang lain. Pepatah “Sapa Sira Sapa Ingsun” menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan yang besar dapat menjadi tidak peduli dengan kebutuhan dan aspirasi orang lain.
Sifat otoriter menjadikan seorang pemimpin memandang sebelah mata pengorbanan karyawan/individu yang telah berjuang puluhan tahun untuk organisasi/perusahaannya. Dengan otoriter inilah seorang pemimpin mengabaikan tugasnya sebagai seorang pemimpin yang harus “melindungi dan mengayomi” bawahannya, tapi sebiliknya mencari kelemahan, kekurangan dan keburukan dari bawahannya, agar mendapatkan pengakuan bahwa dirinya “punya kuasa!”
Implikasi dalam Kepemimpinan
















