“Dalam menciptakan ketahanan pangan ini harus melakukan inovasi agar bisa daulat pangan. Tentu ke depan harapannya inflasi bisa terus ditekan walaupun saat ini aman. Masyarakat semakin sejahtera, kemiskinan dan penurunan stunting bisa terus dilakukan,” beber dia.

Sementara untuk Trans Semarang yang saat ini sudah ramah disabilitas, Mbak Ita menjelaskan pihaknya akan terus melakukan pembenahan, dari segi transportasi ataupun pembangunan. Seperti diketahui Trans Semarang saat ini memiliki armada bus low decker dan micro bus disabilitas yang memudahkan penyandang disabilitas.
“Tentu pembenahan akan terus dilakukan, menciptakan program yang ramah disabilitas ini bukan hal yang mudah. Program pembangunan juga kita sesuaikan, karena kita semua punya hak yang sama,” tuturnya.
Sementara di waktu yang sama, di Studio TV One Jakarta, dalam ajang Penghargaan TV One Inovasi Membangun Negeri 2024, Wali Kota Semarang yang diwakili Kabag Komunikasi Pimpinan dan Protokol, Kartika Hedi Aji juga menerima penghargaan sektor ketahanan pangan untuk pencegahan stunting.
Penghargaan ini merupakan apresiasi kepada tokoh pemerintah yang telah berkontribusi nyata dalam membangun daerahnya. Di bawah kepemimpinan Mbak Ita, Kota Semarang banyak melakukan inovasi untuk menjaga ketahanan pangan, salah satunya melakukan urban farming di ratusan titik Kota Semarang.
Pemkot Semarang juga membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Lumpang Semar Sejahtera untuk memperkuat rantai pasokan makanan. Serta Gerakan Pangan Murah bernama Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman (Pak Rahman) untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat secara murah dan berkualitas.
Tak hanya itu, Mbak Ita juga menginisiasi program Semar Mrantasi hingga penanaman padi Biosalin yang adaptif di lahan payau dan banjir rob di pesisir Semarang, Padi Biosalin merupakan hasil kerja sama dengan BRIN.
Sementara itu pada penanganan stunting, Kota Semarang berhasil menunjukkan progres signifikan dalam upaya menurunkan angka stunting. Hal ini terlihat dari angka prevalensi stunting yang menurun dari 21,30 persen pada tahun 2021 menjadi 10,40 persen di tahun 2022.
“Banyak inovasi yang kami buat, salah satunya program pengentasan stunting dengan Sanpiisan (Sayangi, Dampingi Ibu dan Anak Kota Semarang) yang mendapat penghargaan pula dari PBB,” ungkap Mbak Ita.
Sejumlah penghargaan yang telah diraih oleh Pemkot Semarang merupakan bonus, sekaligus tambahan motivasi untuk terus melakukan sejumlah inovasi lain guna melakukan percepatan target zero stunting dan juga penguatan ketahanan pangan di Kota Semarang.
















