Kristiana Haryanti: Masyarakat Indonesia Gampang Tersugesti

oleh

1

Kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi boleh jadi cuma gejala puncak gunung. Yang tak terungkap lebih besar, lebih banyak, lebih merugikan. Bagaimana praktik dan respons khalayak terhadap model penggandaan uang berbau ”mistik” atau bahkan ”klenik” itu? Bagaimana menyikapi dan menakar persoalan itu dari perspektif psikologis? Berikut perbincangan dengan ahli psikologi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Dr Kristiana Haryanti MSi Psi.

Bagaimana psikologi memandang dan menyikapi praktik penggandaan uang?

Psikologi mengenal istilah sugesti yang bisa menjelaskan fenomena ini. Istilah itu merujuk pada betapa mudah orang memercayai sesuatu, terlebih ketika dibumbui hal yang irasional. Penelitian guru besar dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Yuana Prawitasari, membuktikan kondisi itu dialami sebagian masyarakat. Riset yang berkaitan dengan body language itu hendak memotret perilaku umumnya bangsa kita.

INFO lain :  Gibran Harus Jarang-Jarang Tampil Bersama Jokowi

Faktanya, suatu ketika orang gampang terperdaya untuk meyakini sesuatu. Kondisi itu akhirnya dimanfaatkan orang yang tak bertanggung jawab. Terlebih tingkat pendidikan di Indonesia juga belum merata. Ketika diiming- imingi sesuatu, ya pasti terlena. Rakyat juga mudah terprovokasi serta gampang diarahkan, sehingga praktik semacam itu seperti memperoleh ruang.

Kenapa praktik itu ”menarik” bagi orang, baik terpelajar maupun tidak?

Kalau perkara ini sudah masuk ranah pola pikir. Pola pikir seseorang yang dapat terbangun dari rasa keyakinan (believe) untuk mengakui praktik itu nyata. Bisa jadi orang tertarik karena merasa sudah pernah membuktikan uangnya berlipat ganda. Entah pelaku bermain sulap, menggunakan uang palsu, atau trik lain yang membuatnya percaya.

INFO lain :  ​Gudang Columbus Eletronik di Pekalongan Ludes Terbakat

Rasa percaya atau trust dibumbui kombinasi keyakinan penuh ibarat magnet. Tak peduli orang berpendidikan atau tak mengenal bangku sekolah membutuhkan. Sepertinya saat dikaitkan dengan hal irasional atau supranatural, sebagian besar orang kehilangan akal jernih.

Faktor apa saja yang membuat praktik semacam itu muncul dan ”berterima”?

Saya melihat faktor jalan pintas yang sangat dominan. Orang tak juga paham untuk bisa mencapai sesuatu, entah itu bisnis, karier, bahkan rumah tangga, semua pasti berproses. Tak ada sistem instan atau tiba-tiba. Permasalahannya, tak banyak orang yang menyadari. Belum lagi tuntutan gaya hidup yang disimbolkan oleh pemenuhan materi berlimpah.

INFO lain :  Razia Miras di Brebes, Polisi Amankan Puluhan Botol

Itu semua merangsang orang mengandalkan jalan pintas. Mereka berlomba ingin punya mobil mewah, kedudukan tinggi, dan harta melimpah. Namun enggan membanting tulang untuk mendapatkan. Akhirnya cukup dengan cara instan. Ya, akhirnya mudah dibujuk rayu dengan model penggandaan uang.