Di Zimbabwe, terjadi fenomena yang hampir sama. Mereka yang lahir setelah jatuhnya rezim kulit putih pada 1980 dianggap kaum yang “merdeka sejak lahir”. “(Istilah ini) semacam ingin berkata bahwa kalau kamu tidak berjuang untuk pembebasan negara ini, pendapatmu tidak berpengaruh,” kata Kimberley Kute, pemudi Zimbabwe berusia 24 tahun.
Alasan kedua kenapa anak muda cenderung enggan masuk jalur politik praktis adalah karena mereka berpandangan bahwa politik adalah dunia yang korup. Di Zimbabwe, berdasarkan data 2016, pemuda yang melihat negaranya korup akan 21 persen cenderung tidak memilih.
Sedangkan di skala global, penelitian Orb Media menemukan bahwa orang-orang berusia 40 tahun ke bawah yang berpikir bahwa pemerintah mereka korup punya kecenderungan tidak memilih 7-15 persen dibandingkan orang-orang seumuran yang memandang bahwa pemerintahan mereka bersih. Untuk orang-orang di atas 40 tahun, kecenderungan tidak memilih di antara mereka yang berpandangan bahwa pemerintahan mereka korup hanya 4-7 persen dibandingkan yang merasa bahwa pemerintahan mereka bersih.
Di Bangladesh bulan lalu, ribuan anak muda yang ingin pemerintah meningkatkan keamanan di jalan umum berdemonstrasi. Pemicu protes ini adalah tewasnya dua remaja karena ditabrak bus yang ngebut di Dhaka, ibu kota mereka.
“Tidak ada yang menyuruh saya berdemonstrasi, tapi saya harus melakukannya,” kata seorang mahasiswa arsitektur Bangladesh, yang tangannya diperban. “Politikus kami semuanya korup. Mereka tidak berbuat apa-apa.” Pemuda 20 tahun ini bahkan berikrar tidak akan pernah memberikan suara dalam pemilihan. Menurut dia, suaranya bakal tidak berpengaruh. Tapi, menurut survei Orb, sikap apatis macam ini ternyata tidak terlalu populer di Indonesia.
Dari 3.255 responden yang disurvei Orb, anak-anak muda Indonesia yang menganggap bahwa pemerintah Indonesia korup punya kecenderungan tidak memilih hanya 2-6 persen dibandingkan pemuda seumuran mereka yang berpikir pemerintah Indonesia bersih. Persentase ini jauh lebih kecil jika dibandingkan data dunia yang menyatakan bahwa pemuda yang berpikir pemerintahan mereka korup punya kecenderungan tidak memilih 7-15 persen dibandingkan orang-orang seumuran yang berpandangan pemerintahan mereka bersih.
















