Hasil analisis Orb Media terhadap berbagai survei menunjukkan anak-anak muda di dunia cenderung memilih protes jalanan ketimbang menggunakan hak pilihnya. Bagaimana dengan Indonesia?
Graal, 31 tahun, tidak bersikap seperti calon lainnya—membagi-bagikan uang kepada masyarakat yang bertemu dengannya, atau berjanji membangun rumah ibadah, atau membiayai anak mereka sekolah. Yang ia lakukan ketika bertemu calon pemilih adalah membeberkan kemampuannya dan apa yang bisa ia lakukan ketika menjadi anggota DPD nanti. “Tagline saya adalah siap mikir, sedia kerja,” kata dia saat ditemui di sebuah kafe di Jakarta, 20 Agustus 2018.
Graal adalah contoh pemuda—dalam tulisan ini adalah orang-orang yang berusia 40 tahun ke bawah—yang masih percaya bahwa institusi politik seperti Dewan Perwakilan Daerah adalah kendaraan yang efektif untuk membuat perubahan. “Kebijakan publik adalah persoalan struktural. Perlu subyek untuk terlibat mendorong perubahan pada jalur struktural,” kata dia.
Di negara-negara lain di dunia, orang-orang seperti ini makin sedikit, setidaknya menurut survei Orb Media Network , sebuah lembaga jurnalistik global, yang dalam tulisan ini bekerja sama dengan Tempo.co. Laporan lengkap hasil survei ini bisa dibaca di Orbmedia.org.
Dari analisis Orb Media terhadap survei terhadap 979 ribu orang di 128 negara yang dilakukan mulai 1980-2018, ditemukan bahwa anak-anak muda yang peduli pada pemerintahan malah menolak terlibat dalam politik praktis. Bahkan untuk memberikan suara pun mereka enggan. Mereka lebih memilih mengadakan protes-protes di jalanan.
Kesimpulan itu tercermin dalam hasil sigi ini: orang-orang yang berumur di bawah 40 tahun punya kecenderungan berdemonstrasi 9-17 persen ketimbang mereka yang di atas 40 tahun. Hasil itu menunjukkan jurang yang kian lebar dengan kondisi pada awal 2000-an. Saat itu, kecenderungan orang-orang berusia di bawah 40 tahun untuk menjalankan protes jalanan hanyalah 3 persen dibandingkan mereka yang berusia di atas 40 tahun.
Pertama, karena mereka merasa suara mereka tidak didengar. Di Nikaragua, misalnya, terjadi fenomena yang disebut adulterismo. “Orang-orang tua bilang: kalau kamu tidak terlibat dalam revolusi 1979, kamu tidak punya hak bicara,” kata aktivis Nikaragua berusia 22 tahun, yang minta namanya ditulis sebagai Maria. Saat ini dia sedang bersembunyi menghindari kejaran aparat keamanan yang sudah membunuh ratusan pemuda di Nikaragua sejak demonstrasi menentang rezim Daniel Ortega meledak pada April lalu.
















