Sukses dalam bentuk lain adalah keterlibatan dan keriangan masyarakat. Tampak begitu kentara bahwa masyarakat ikut serta dengan riang, meramaikan acara ini. Berbagai venue pertandingan diramaikan oleh orang-orang yang hendak menonton pertandingan, atau sekadar ingin menikmati kemeriahan suasana. Masyarakat telah menjadi bagian penting dari perhelatan ini.
Kini perhelatan itu sudah usai. Lalu, apa hal-hal penting yang perlu kita perhatikan?
Pertama, kita harus kembali pada kehidupan rutin kita. Ibarat orang selesai menyelenggarakan pesta, kini saatnya kita kembali pada kenyataan. Pada pesta kita tampilkan sisi-sisi terbaik kita. Sebagian di antaranya dengan polesan kosmetik tebal agar tambah indah. Kini kita harus kembali ke kehidupan tanpa kosmetik itu. Beberapa bagian di antaranya sungguh memalukan, bahkan menyakitkan.
Jakarta bukanlah kota yang cantik seperti kita sajikan selama Asian Games. Kota ini kotor dan bau. Salah satu topik yang sempat jadi perbincangan beberapa minggu adalah soal Kali Item yang kotor itu. Kini kita harus kembali ke persoalan kali-kali Jakarta yang kotor, yang harus ditangani dengan benar, tidak cukup dengan penanganan instan yang konyol. Pemda DKI harus bekerja keras dengan program nyata untuk menanganinya.
Selama Asian Games jalan-jalan relatif lancar, karena pemberlakuan sistem ganjil genap. Pemerintah DKI nampaknya sangat menikmati sukses itu. Kini sistem itu sepertinya akan terus dipertahankan. Masalahnya, itu adalah tindakan instan, mirip dengan menutup Kali Item dengan plastik. Tanpa sarana transportasi umum yang memadai sistem ganjil genap akan jadi masalah besar. Efek ekonominya akan sangat besar.
Kita juga akan dihadang oleh masalah besar, yaitu banjir. Untunglah acara Asian Games berlangsung dalam musim kemarau. Selama acara kita bebas dari ancaman banjir. Tapi ancaman itu nyata sekarang. Pemerintah DKI hingga saat ini belum menunjukkan program serius yang terstruktur untuk mengatasi masalah ini.
Ada setumpuk masalah lain yang harus dibenahi di Jakarta, untuk bisa mempertahankan apa yang kita saksikan selama Asian Games. Itu semua memerlukan kerja yang sangat serius.
Atlet-atlet kita sudah berprestasi sangat baik selama Asian Games. Tentu saja kita tidak berharap prestasi itu hanya sekali berarti, sesudah itu mati. Prestasi itu harus dipertahankan dan ditingkatkan, dengan pembinaan terprogram. Pemerintah dan induk organisasi setiap cabang olah raga juga diharapkan punya program yang baik.
Yang tak kalah penting adalah soal persatuan nasional. Suasana perpecahan akibat preferensi politik begitu terasa di tengah Asian Games. Penampilan Presiden di pembukaan Asian Games, yang sebenarnya tidak politis, hanya bersifat pertunjukan, ternyata dimaknai sangat politis oleh segolongan orang. Demikian pula langkah Presiden untuk menyampaikan pesan penutupan dari Lombok. Sebuah usaha positif dengan tujuan untuk membangkitkan semangat warga Lombok, serta mengingatkan kita semua untuk peduli, bagi sekelompok orang hanya dianggap pencitraan politik belaka.
















