Upaya menyelamatkan harga diri segera dilakukan, Jepang tentu saja pantang kehilangan muka. Tiga tokoh Indonesia yang dianggap paling berpengaruh kala itu pun dipanggil: Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat.
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pun dibentuk. Dai Nippon ingin meyakinkan mendukung penuh keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka. Bahkan, seolah-olah, kemerdekaan itu adalah hadiah dari Jepang.
Sebagai penguat keyakinan akan janji itu, Jepang menerbangkan Sukarno, Hatta, dan Radjiman ke Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945, untuk membahas rencana penyerahan kemerdekaan dengan pemimpin militer tertinggi mereka di kawasan Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi.
Dua hari setelah pertemuan tersebut, Jepang ternyata benar-benar kalah perang dan menyerah kepada Sekutu. Akhirnya kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, atau lebih cepat tanpa harus menunggu penyerahan dari Jepang.
Harapan Palsu
Pada 9 Agustus 1945 malam, hari yang sama dengan luluh-lantaknya Kota Nagasaki akibat bom atom, otoritas pendudukan Jepang di Indonesia segera bergerak, menerbangkan tiga tokoh PPKI yakni Sukarno, Hatta, dan Radjiman ke Kota Dalat, Vietnam.
Perjalanan udara dari Indonesia ke Vietnam memang tidak terlalu jauh, tapi sangat berbahaya kala itu. Pesawat Sekutu sewaktu-waktu bisa datang menyergap. Rombongan kecil ini terpaksa mampir sejenak di Singapura untuk transit dan menginap semalam.
Penerbangan dilanjutkan keesokan harinya, pada 10 Agustus 1945. Rombongan mendarat dengan selamat di Kota Saigon, Vietnam—kini bernama Ho Chi Minh City. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju Kota Dalat. Dalam buku Mohammad Hatta: Memoir (1979), Hatta menuturkan jarak antara Saigon ke Dalat kira-kira 300 km ke arah utara (hlm. 437).
Di Dalat, ketiga tokoh bangsa Indonesia itu bertemu dengan Marsekal Terauchi. Jepang menyadari bahwa mereka sudah di ambang kekalahan dan fakta tersebut tidak mungkin bisa ditutup-tutupi lagi. Terauchi selaku pemimpin militer tertinggi Dai Nippon di kawasan Asia Tenggara, berencana memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
Terauchi menyampaikan pesan kepada Sukarno, Hatta, dan Radjiman, bahwa kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh segera dinyatakan, tergantung kinerja PPKI. Namun, putra sulung Perdana Menteri Jepang Terauchi Masatake ini sebetulnya sudah menyusun rencana.
















