Dikutip dari buku Pendudukan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1991) yang ditulis A.J. Sumarmo, Terauchi menyampaikan kepada ketiga tokoh itu bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945 (hlm. 74). Menurut Terauchi, diperlukan waktu untuk melakukan berbagai persiapan sebelum proklamasi kemerdekaan. Sukarno dan kawan-kawan saat itu menyatakan sepakat dengan tawaran Terauchi.
Sebenarnya, iming-iming kemerdekaan yang dijanjikan akan diberikan 24 Agustus 1945 itu hanya merupakan akal-akalan Jepang. Di satu sisi, Dai Nippon tentu saja tidak ingin kehilangan Indonesia, tapi di sisi lain, situasi mereka di Perang Asia Timur Raya semakin terdesak.
Dengan jarak waktu yang cukup, Terauchi masih berharap Jepang mampu membalikkan keadaan dan bangkit sehingga mereka tidak perlu memenuhi janji kepada Indonesia. Namun, jika pada akhirnya memang harus kalah, maka Jepang bisa mengklaim kemerdekaan Indonesia bisa terwujud berkat pemberian.
Ini bukan kali pertama Jepang berjanji akan memerdekakan Indonesia. Tahun sebelumnya, pertengahan 1944, pemerintah Dai Nippon juga pernah menjanjikan hal serupa setelah menelan kekalahan di sejumlah front perang. Tujuan Jepang menjanjikan itu hanya ingin menarik simpati rakyat Indonesia dengan harapan mendapatkan bantuan jika musuh sewaktu-waktu datang, sekaligus memperkuat posisi politik mereka di Asia Tenggara.
Melalui Deklarasi Koiso pada September 1944, Kekaisaran Jepang mengumumkan akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Kabar ini disambut dengan suka-cita oleh Sukarno dan kawan-kawan (Suhartono W. Pranoto, Kaigun: Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007: 73),
Namun, janji itu tidak pernah dipenuhi. Sempat terjadi silang-pendapat di kubu pemerintahan militer Dai Nippon di Indonesia terkait janji. Kenyataannya, Indonesia belum merdeka juga hingga pemanggilan Sukarno, Hatta, dan Radjiman, ke Dalat setahun setelahnya.

Kemerdekaan Indonesia Hadiah Jepang?
Setelah tiba ke Tanah Air dari Dalat, Sukarno dan Hatta segera mengabarkan hasil pertemuan mereka dengan Teraichi kepada tokoh lain di Indonesia pada 14 Agustus 1945. Dituliskan oleh Aboe Bakar Lubis dalam Kilas-Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi (1992), mereka belum yakin Jepang sudah menyerah kepada Sekutu (hlm. 96).
Namun, beberapa tokoh bangsa lainnya, terutama Soetan Sjahrir dan dari golongan muda, meyakinkan bahwa Jepang memang sudah terdesak dan hampir dipastikan bakal kalah perang. Sjahrir mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamirkan. Ia curiga pertemuan di Dalat itu hanyalah tipu-muslihat Jepang.
















