Lebih dekat dengan “Komisaris Polisi Maksum”
Rasanya hampir setiap hari orang Semarang melewati Jalan Kompol Maksum. Seruas jalan pendek antara perempatan Milo sampai Peterongan. Namun tahukah siapa pemilik nama Kompol Maksum itu? Lama sekali saya berusaha mencari sejarah atau setidaknya catatan tentang tokoh tersebut. Dan akhirnya menemui apa yang saya cari itu di grup sejarah kepolisian.
Ternyata ia adalah seorang anggota Bhayangkara unit tempur dari Korps Brigade Mobil. Ia adalah Komandan Batalyon 307 Resimen ke-3 Brimob yang berkedudukan di Semarang.
Dan ia adalah personel yang dinyatakan hilang dalam pertempuran atau missing in action. Ia gugur ketika melaksanakan tugas menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.
Pemberontak ini adalah pendiri Tentara Islam Indonesia.
Nama kecilnya adalah La Domeng dan nama lengkap Abdul Qahhar Muzakkar.
Ketika itu, setelah Indonesia merdeka memang tidak serta merta semua daerah bersatu. Ada yang disulut tokoh-tokoh di daerah untuk memberontak seperti yang dilakukan Kahar Muzakar yang bergerilya dalam waktu cukup lama.
Menghadapi hal itu, diterjunkanlah Korps Brimob Resimen ke-3 Yon 307 yang dipimpin Komisaris Polisi Maksum. Ia dan kesatuannya berangkat bersama dengan unsur Batalyon Siliwangi angkatan pertama.
Juga ikut serta Kompi A dan B dari Resimen Pelopor Brimob sebagai pasukan pengejar yang dipimpin Inspektur Polisi I Sumarni, seorang personel lulusan pendidikan Ranger tahun 1964.
Pasukan ini di BKO kan ke Kodam XIV / Hasanudin di bawah Pangdam Brigjen TNI M Yusuf.
Di Palopo pasukan pelopor disebar ke beberapa wilayah. Peleton 1 di Massamba dengan Danton Aiptu Suripno, peleton 2 di Palopo dengan Danton Aiptu Joko Sugiyono, sedang peleton 3 di Batu Standuk dikomandani Aiptu Abdul Fatah.
Setiap peleton Pelopor mendampingi satu kompi Yon Siliwangi. Ikatan tim yang solid ini seolah mengulang keberhasilan pada penumpasan pemberontakan PKI Muso di Madiun 1948.
Namun di Sulawesi ini tim menghadapi perlawanan tangguh karena anggota pemberontak juga bekas pasukan tempur yang ikut perang pada perjuangan fisik kemerdekaan.
Namun Resimen Pelopor yang berpengalaman akhirnya bisa meredam pemberontak dengan teknik tempur di waktu malam dan bergerak berpindah-pindah.
Namun pada satu peristiwa tahun 1964, pasukan Brimob dihadang pemberontak. Truk logistik dihancurkan. Kompol Maksum yang berada di belakang truk bersama satu anggota dan ajudan memberikan perlawanan. Mereka melompat namun pemberontak mengepung dan hujan peluru serta granat menghancurkan Kompol Maksum dan tiga personel lain.
Demi menghadapi perlawanan pemberontak yang tangguh maka dilakukanlah operasi pemusnahan logistik dan terjadi pertempuran terbuka. Pemberontak lolos namun gudang logistik dikuasai Resimen Pelopor dan Yon 330 Siliwangi.
Pemberontak kian surut dan orang kepercayaan pimpinan pemberontak menyerah pada Januari 1965. Ia memberikan info persembunyian pimpinan pemberontak.
Maka dilakukanlah penyergapan. Kopral Sadeli melepaskan tembakan dan mengenai dada pimpinan pemberontakan. Sekaligus dengan terbunuhnya pemberontak, berakhirlah operasi penumpasan.
Kahar terbunuh pada 3 Februari 1965.
Bukti berakhirnya operasi penumpasan pemberontakan itu berupa rampasan Senapan Mesin Berat LMG Browning sebanyak dua buah dan sampai sekarang masih tersimpan di Mako Kompi 2 Batalyon A Pelopor Simongan Semarang.(*)
Sumber rujukan : Johanes Christiono # akuagenberita
#sejarahituperlu.
















