Tak ada yang berani menyemplungkan diri untuk bertanding dengan mereka karena yang dilawan adalah raja, alias yang merajai daerah tersebut. Bedanya tipis saja, dalam kerajaan tak mengenal wakil raja. Tapi, di dalam demokrasi elektoral lokal, kandidat raja sepaket dengan wakilnya. Dan, jangan-jangan semua inkubator kepemimpinan di daerah tersebut diketuai oleh mereka pula. Atau, setidaknya, kandidat tunggal tersebut satu-satunya patron politik untuk semua pemimpin organisasi-organisasi (inkubator kepemimpinan) di daerah tersebut. Ini baru sekedar asumsi saya alias sekedar “jangan-jangan” saja. Semoga tidak.
Dan, yang ketiga…ya, semestinya ada jenis perasaan ketiga yang dirasakan oleh kandidat yang akan berhadapan dengan kota kosong, yakni malu. Kata yang saya asumsikan di awal tulisan ini. Mengapa? Karena pertandingan yang seru adalah pertandingan yang dilakoni oleh dua atau beberapa pihak dengan kapasitas kemampuan yang hampir sama (level playing field). Ibarat memakai logika komparatif, harus apple to apple.
Nah, lantas jika kandidat di 19 daerah tersebut harus melawan kotak kosong, maka dalam logika komparatif di atas, sang kandidat pun sebenarnya berbeda tipis dengan kotak kosong yang menjadi lawannya. Atau, jika mau sedikit menyopankan bahasanya, maka bisa dimaknai kotak kosong selevel dengan para kandidat di 19 daerah tadi.
Tampaknya secara logika boleh jadi tak terlalu salah, sekalipun saya hakul yakin tak ada satu pun dari kandidat di 19 daerah tersebut bersedia mengamininya. Tapi, ya begitulah. Secara logika komparatif, pemenangnya sebenarnya adalah kotak kosong itu sendiri. Pasalnya, sekalipun sebenarnya pemenangnya secara meyakinkan adalah pasangan tunggal tersebut, toh level lawannya hanya kotak kosong. Jadi ya sama sajalah.
Jannus TH SiahaanDoktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran
















